Pac-Man
WELCOME TO MY BLOG
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kamis, 12 April 2012

PSIKOLOGI KESEHATAN


  1. PSIKOLOGI




Bidang pengetahuan yang termasuk dalam rumpun Ilmu Pengetahuan Kejiwaan dan menelaah gejala-gejala kejiwaan dan perilaku pada makhluk hidup terutama manusia. Pengetahuan ini mempelajari peranan dan rakitan dari kehidupan jiwa serta akibat-akibatnya berupa perilaku pada mahluk hidup. Istilah “Psychology” berasal dari kata psyche yang berarti jiwa, napas, rohani dan semangat. Secara luas pengetahuan ini menelaah semua gejala kejiwaan atau kerohaniaan (untuk dilawankan dengan gejala-gejala kejasmaniaan) yang terdapat pada makhluk hidup, utamanya manusia. Secara rinci berbagai sasaran yang telah ditelaah oleh psikologi ialah:


  1. Diri (self)
  2. Hasrat (desire)
  3. Ingatan (memory)
  4. Kebiasaan (habit)
  5. Kecerdasan (intelegence)
  6. Kegiatan belajar (learning)
  7. Keyakinan (belief)
  8. Khayalan (imagination)
  9. Naluri (instink)
  10. Pencerapan (perception)
  11. Penginderaan (sensation)
  12. Perasaan (emotion/feeling)
  13. Perilaku (behavior)
  14. Pertimbangan (judgement)
  15. Pikiran (thought)
  16. Sikap (attitude)


Psikologi dikembangkan melalui pemikiran para ahli atau sebagai percobaan di laboratorium dan pengamatan di lembaga. Tiga mazhab utama yang telah berkembang, yaitu Adlerian Psychology (mazhab yang dipelopori oleh Alfed Adler, yang berasal dari Amerika Serikat); Freudian Psychology (mazhab yang dipelopori oleh Sigmund Freud dari Austria; dan Jung Psychology (mazhab yang dipelopori oleh Carl Gustav Jung yang berasal dari Swiss). Selain itu masih banyak aliran pemikiran dari para ahli ilmu jiwa yang satu sama lain saling bertentangan atau berbeda. Psikologi semula berkembang di Jerman dan laboratorium ilmu jiwa yang pertama didirikan oleh seorang ahli Wilhem Wundt dalam tahun 1879 di Leipzig Jerman.


Ilmu jiwa mempunyai penerapan dalam banyak cabang ilmu pengetahuan lain. Manfaat dari telaah dengan menggunakan berbagai asas dan tata cara kejiwaan terbukti telah dapat menyelesaikan persoalan-persoalan dalam berbagai bidang atau tempat seperti kantor, pabrik dan sekolah. Pada dewasa ini ilmu jiwa berkembang luas dan mempunyai cabang- cabang sebagai berikut:
  1. Abnormal Psychology
  2. Adolescent Psychology
  3. Animal Psychology
  4. Applied Psychology
  5. Child Psychology
  6. Cilinical Psychology
  7. Counseling Psychology
  8. Educational Psychology
  9. Engginering Psychology
  10. Experimental Psychology
  11. Genetic Psychology
  12. Industrial Psychology
  13. Personel Psychology
  14. School Psychology
  15. Social Psychology
(The Liang Gie & Andrian The)
Para filsof setuju sesuatu yang menyebabkan manusia hidup disebut jiwa, atau psyche bahasa Yunani. Sedang dalam bahasa Arab digunakan empat istilah roh, qalb, nafs dan ‘aql.
Pendapat para ahli berbeda-beda tentang hakikat jiwa. Ada yang mengatakan jiwa manusia itu adalah Allah sendiri. Ada pula yang mengatakan ia adalah air, angin dan api saja atau ketiga-tiganya sekaligus sebab dengan hilangnya salah satunya manusia itu akan mati. Pendapat yang paling popular adalah dua pendapat, yaitu yang pertama adalah bahwa jiwa adalah subtansi yang bebas dari benda dan sifat-sifatnya, jadi ia bukanlah unsur tubuh tetapi ia terhubung denganya secara pengurusan dan perlakuan. Dengan berlakunya maut putuslah perhubungan itu. Pendapat ini disokong oleh sebagian besar filosof-filosof teologi, golongan-golongan sufi terkemuka dan golongan-golongan ahli kalam seperti al Tusi, al Ghazali dan al Razi.


Pendapat kedua adalah bahwa jiwa itu adalah subtansi materialist, hal ini disokong oleh segolongan dari mukthazilah dan banyak pengikut-pengikut ahli kalam. Golongan yang mengatakan bahwa jiwa adalah subtansi spiritual, mujjarad dan berdiri sendiri, member dali-dalil berikut, diantaranya adalah jiwa itu mengetahui dan ia mengetahui bahwa ia tahu, sedang pengetahuan itu bukanlah sifat badan atau tubuh kalau tidak tentulah benda itu dapat menanggapi.


Dalil yang lain lagi adalah bahwa badan mempunyai ciri-ciri khusus, yang paling nyata ialah jika menerima bentuk tertentu seperti segitiga, maka ia tidak dapat menerima bentuk lain seperti segi empat dan bulat kecuali bentuk yang terdahulu (segitiga) itu sudah hilang. Bila ia menerima ukiran atau lukisan, maka ia tidak dapat menerima lukisan lain. Bila anda telah melukis sebuah lukisan pada suatu papan atau sehelai kertas atau suatu lukisan, maka ia tidak dapat menerima lukisan lain, kecuali setelah anda menghapus lukisan pertama. Tetapi sebaliknya berlaku pada jiwa. Pada jiwa itu boleh bertumpuk barbagai impressi, berbagai gambaran terhadapbenda-benda atau pikiran-pikiran yang ditanggapi tanpa menghapus yang pertama. Malah ia tetap sempurna, dan bertambah kuat dengan lukisan kedua. Sebab manusia itu bertambah faham bila ia bertambah ilmu. Ini berlawanan dengan sifat-sifat tubuh yang bisa hancur dan punah bila bebannya semakin berat.


Adapun pendapat yang mengatakan bahwa jiwa itu sejenis dengan benda, dengan alasan tak dapat ia berbuat tanpa anggota-anggota badan, maka ini salah sama sekali, sebab kebutuhannya kepada benda hanyalah menunjukkan bahwa pekerjaannya itu disyaratkan adanya alat-alat benda, bukan karena hakikatnya itu sendiri adalah benda. Kalau tidak, tentulah dapat kita berkata bahwa gergaji itulah hakikat tukang kayu, hakikat tukang batu adalah alat-alat bangunan, dan hakikat tukangkebun adalah alat-alat pertanian. Inilah sebagai perbedaan pendapat para ahli falsafah tentang jiwa.


Untuk mengetahui perbedaan pengertian tersebut, berikut ini dikemukakan pendapat para ahli psikologi:


  1. Wilhem Wundt (1832-1920)


Memberikan batasan pengertian psikologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari atau menyelidiki pengalaman yang timbul dalam diri manusia seperti pengalaman perasaan, panca indra, merasakan sesuatu, berfikir dan berkehendak; bukannya mempelajari/menyelidiki pengalaman diluar diri manusia karena pengalaman demikian menjadi objek penyelidikan ilmu pengetahuan alam (Fisika).




  1. Jhon Broadus Watson (1842-1910)


Seorang ahli psikologi Amerika Serika berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku lahiriah manusia dengan menggunakan metode-metode observasi (pengamatan) secara objektif seperti terhadap rangsangan (stimulus) dan jawaban (respons) yang menimbulkan tingkah laku, psikologi bukan mempelajari tentang kesadaran manusia. Scope (ruang lingkup) psikologi meliputi tingkah laku manusia dan binatang, bahwa tingkah laku binatang lebih fundamental daripada tingkah laku yang kompleks dari manusia. Paham Watson demikian disebut Behaviorisme (paham yang menitikberatkan pada tingkah laku lahiriah).




  1. Gustav Fechner


Pelopor aliran ilmu jiwa yang bercorak ilmu alam (psikofisika), mendefinisikan psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hubungan antara jasmani dengan rohani manusia. Titik perhatiannya terletak pada penyelidikan tentang hubungan antara ciri-ciri rangsang (stimulus) yang bersifat jasmani dengan perasaan panca indra yang ditimbulkannya.




  1. George A. Miller


Seorang sarjana psikolog Amerika Serikat mendefinisikan psikologi sebagai ilmu yang mempunyai objek pembahas berupa pengetahuan tentang mental atau jiwa manusia secara luas. Pembahasannya bersifat ilmiah yang didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan menurut metode ilmiah pula.




  1. Flody L. Rich


Seorang sarjanawan Amerika Serikat menyatakan bahwa psikologi adalah ilmu oengetahuan yang membahas tentang proses penyesuaian diri manusia yang berupa tingkah laku yang berusaha memenuhi kebutuhan baik biologis maupun kebutuhan hidup sosialnya. Sedang tujuan psikologi adalah berusaha memahami, meramalkan dan mengontrol tingkah laku tersebut.


  1. Fillmore H. Sanford


Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang melakukan studi tentang proses selama hidup manusia. Studi tersebut merupakan usaha untuk mencari hukum-hukum serta aturan yang nampak dalam interaksi (saling mempengaruhi) seseorang dengan dunia sekitarnya.




  1. Percival M. Symonds


Berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang tidak hanya membahas tentang pengalaman manusia saja, juga tidak mempelajari tentang jiwa serta tingkah laku manusia saja, akan tetapi ia mempelajari tentang pengalaman, kegiatan rohaniah dan tingkah laku dalam hubungannya dengan sikap responsive serta penyesuaian dirinya terhadap lingkungan sekitarnya.




  1. Hubert Bonner


Menyimpulkan bahwa psikologi social adalah studi ilmiah tentang tingkah laku manusia. Dengan demikian dapat diketahui bahwa ruang lingkup pembahasan psikologi social dibatasi pada tingkah laku manusia, sedang perilaku makhluk lainnya tidak menjadi tugas pembahasannya.


Psikologi sebagai ilmu, psikologi merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan pendekatan ilmiah, merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan penelitian-penelitian ilmiah. Penelitian ilmiah adalah penelitian yang dijalankan secara terencana, sistematis dan terkoordinasi berdasarkan data empiris. Karena itu salah satu ciri psikologi sebagai suatu ilmu adalah: berdasarkan data empiris, disamping data itu diperoleh secara sistematis.
Beberapa tugas atau fungsi psikologi adalah:
  1. Mengadakan deskripsi, yaitu tugas untuk menggambarkan secara jelas hal-hal yang dipersoalkan/dibicarakan.
  2. Menerangkan, yaitu tugas untuk menerangkan keaadaan atau kondisi yang mendasari terjadinya peristiwa tersebut.
  3. Menyusun teori, yaitu tugas mencari dan merumuskan hukum/ketentuan mengenai hubungan antara peristiwa yang mungkin terjadi.
  4. Prediksi, yaitu tugas untuk membuat ramalan mengenai hal-hal yang akan terjadi.
  5. Pengendalian, yaitu tugas untuk mengendalikan peristiwa.


Karena psikologi itu merupakan ilmu mengenai jiwa, maka persoalan pertama yang timbul adalah pengertian dari jiwa. Jiwa diartikan sebagai:
  1. Kekuatan yang menyebabkan hidupnya manusia.
  2. Menyebabkan manusia dapat berpikir, berperasaan dan berkehendak.
  3. Menyebabkan orang mengerti/insaf akan segala gerak.
















  1. PSIKOLOGI KLINIS/KESEHATAN




Menurut Witemer (1912) psikologi klinis adalah metode yang digunakan untuk mengubah/mengembangkan jiwa seseorang berdasarkan hasil observasi dan eksperimen dengan menggunakan teknik pedagogis. Ada beberapa ciri yang terdapat dalam psikologi klinis:


  1. Memiliki orientasi ilmiah profesional, yaitu adanya ciri berupa penggunaan metode ilmu dan kaidah psikologi, dalam pemberian bantuan terhadap individu yang menderita cemas, melalui intervensi dan evaluasi psikologi.
  2. Menampilkan kompetensi psikologi, karena psikologi klinis terlatih dalam menggunakan petunjuk dan pengetahuan psikologi dalam kerja profesional.
  3. Menampilkan kompetensi klinis, karena berusaha mengerti orang lain.
  4. Ilmiah, karena menggunakan metode ilmiah untuk mencapai presisi dan objektivitas dalam cara kerja profesionalnya dengan tetap melakukan validasi untuk setiap individu yang ditangani.
  5. Profesional, karena lebih menyumbangkan pelayanan kemanusiaan yang penting bagi individual, kelompok sosial, dan komunitas untuk memecahkan masalah.


Terdapat hubungan yang jelas dan dekat antara psikologi klinis dan psikologi abnormal, serta psikiatri. Tugas yang dihadapi psikologi klinis, adalah memahami masalah-masalah yang dihadapi pasien, menyelesaikan aspek kepribadian untuk tujuan orientasi teoritis studi klinis mengenai kepribadian, terdaat 3 aspek kepribadian yang perlu dipahami:


  1. Motivasi


Adalah kebutuhan psikolgi yang telah memiliki corak/arah yang ada dalam diri individu yang harus dipenuhi agar kehidupan kejiwaanya terpelihara yaitu senantiasa dalam keadaan seimbang. Pada awalnya kebutuhan itu hanya berupa kekuatan dasar saja. Namun selanjutnya berubah menjadi suatu sektor yang disebut motivasi karena memiliki kekuatan dan arah.


  1. Kapasitas


Kapasitas adalah karakteristik individu yang adjustic, termasuk dalam hal kapasitas intelektual untuk mencapai tujuannya sendiri dan untuk memenuhi tuntutan yang dikehendaki lingkungan.
Pentinganya pemahaman mengenai kapasitas ini bagi psikologi klinis adalah untuk memperkirakan dalam bidang apa saja dan seberapa kuat individu memiliki sumber stres, baik dalam keadaan frustasi , konflik maupun tertekan.


  1. Pengendalian


Yang dimaksud dengan pengendalian adalah proses yang dilakukan individu saat menggunakan kapasitasnya dan mengekang motivasi implusif kedalam saluran yang berguna bagi penyesuaian dirinya, yang secara sosial diterima.


Perkembangan kemampuan mengendalikan diri terjadi sejak masa bayi. Tepatnya saat bayi mulai belajar menghadapi frustasi. Ada lima wujud pengendalian, yaitu pengendalian berlebih/represi, lemah/undercontrol, tentatif/cemas, terganggu, disebut juga sebagai pengendalian yang inadequate dan pengendalian yang ideal, pengendalian yang melahirkan penyesuaian yang tepat.
Tugas profesional seorang psikolog klinis adalah mengimplementasikan prinsip dasar psikologi klinis sebagai ilmu terapan. Berkaitan dengan tugas ini, ada beberapa peranan yang dimiliki psikologi klinis sebagai berikut:


  1. Terapi


Istilah khusus untuk psikologi adalah psikoterapi. Pada umunya terapi menampilkan empat gambaran kegiatan yaitu:
  1. Membantu hubungan murni yang bersifat memelihara hubungan antara terapis dengan klien.
  2. Membantu klien melakukan eksplorasi/ pengalihan diri.
  3. Terapis dan klien bekerjasama memecahkan masalah.
  4. Terapis membantu sikap dan mengerjakan keterampilan / cara kepada klin untuk menanggulangi stres.


  1. Assessment


Yaitu proses yang digunakan psikolog klinis untuk mengamati dan mengevaluasi masalah sosial dan psikologis klien, baik menyangkut keterbatasan maupun kelebihannya.


  1. Mengajar


Yaitu memberikan informasi dan pelatihan mengenai topik-topik yang termasuk ruang lingkup pengetahuan yang melandasi profesinya, seperti psikolog klinis, psikolog abnormal, psikologi konseling, dll.


  1. Konsultasi


Memberikan bimbingan bagi perseorangan, kelompok atau badan sistam, dan organisasi untuk mengembangkan kualitas diri. Disebut konsultasi karna tujuan psikolog klinis dalam hal ini mmbantu klin melalui pkerjaan/ prmasalahan mereka.
Karena adanya minat terhadap bidang baru ini, suatu disiplin baru muncul; Psikologi Kesehatan. Stone (1991) meringkaskan tahun-tahun pertama kemunculan ini. Psikologi kesehatan ini diakui oleh “American Psychological Association” tahun 1977. Lima tahun kemudian di tahun 1982, “The Interamerican Congress of Psychology” di Quito Cuador, mencurahkan perhatian sebagian besar dari program ini untuk memperbaharui nama kegiatan ini dan pada pertemuan tersebut menekankan suatu “Task Force” pada psikologi kesehatan.
Simposium internasional pertama tentang psikologi kesehatan diselenggarakan di La Habana, Cuba tahun 1984. Sejak itu telah banyak ketertarikan dunia luas pada konsep dan penerapan serta pengetahuan dan kemampuan psikologi untuk masalah-masalah sistem kesehatan. Konferensi internasional dan regional telah berlanjut terus menerus. Pada banyak negara psikologi ksehatan di integrasi dengan kurikulum psikologi, dan semakin lama semakin banyak universitas menawarkan latihan-latihan khusus.


Salah satu definisi psikologi kesehatan dikemukakan oleh Joseph Matarazzo (1980) sebagai berikut:
“….the aggregate of the specific educational, scientific and professional contributions of the discipline of psychology to the promotion and maintenance of health, the prevention of illness, the indentifications of etiologic and diagnostic correlates of health, illness and rlated dysfunction, and the analysis and improvement of the health care system and halth policy formation…”


Definisi ini mencakup hal-hal sebagai berikut:
  1. Psikologi kesehatan menyangkut bagian khusus dari bidang ilmiah psikologi yang memfokuskan pada studi perilaku yang memiliki kaitan dengan kesehatan dan penerapan dari kesehatan ini.
  2. Penkanan pada peran perilaku yang normal di dalam mempromosikan kesehatan (promosi kesehatan dan pencegahan dasar) pada level mikro, dan makro, dan menyembuhkan penyimpangan kesehatan.
  3. Banyak bidang psikologi yang berbeda dapat memberikan sumbangan kepada bidang psikologi kesehatan.
C. GANGGUAN KEJIWAAN




Dari hasil berbagai penelitian dapat dikatakan bahwa gangguan jiwa adalah kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan fisik, maupun dengan mental. Keabnormalan tersebut tidak disebabkan oleh sakit atau rusaknya bagian-bagian anggota badan, meskipun kadang-kadang gejalanya terlihat pada fisik.


Keabnormalan itu dapat dibagi atas dua golongan yaitu: gangguan jiwa (neurose) dan sakit jiwa (psychose). Keabnormalan itu terlihat dalam bermacam-macam gejala, yang terpenting di antaranya adalah : ketegangan batin (tension), rasa putus asa dan murung, gelisah/cemas, perbuatan-perbuatan yang terpaksa (compulsive), hysteria, rasa lemah dan tidak mampu mencapai tujuan, takut, pikiran-pikiran buruk dan sebagainya. Semuanya itu mengganggu ketenangan hidup, misalnya tidak bisa tidur nyenyak, tidak ada nafsu makan dan sebagainya.


Ada perbedaan antara neurose dan psychos. Orang yang kena neurose, masih mengetahui dan merasakan kesukarannya, sebaliknya yang kena psychose tidak. Disamping itu, orang yang kena neurose kepribadiannya tidak jauh dari realitas, dan masih hidup dalam alam kenyataan pada umumnya. Sedangkan orang yang kena psychose, kpribadiannya dari segala segi (tanggapan, perasaan/emosi, dan dorongan-dorongannya) sangat terganggu, tidak ada integritas dan ia hidup jauh dari alam kenyataan. Contoh gangguan jiwa adalah:








  1. Neurasthenia


Salah satu gangguan jiwa yang sudah lama dikenal orang sebagai penyakit saraf, yang dahulu disangka terjadi karena lemahnya saraf. Karena itu pengobatan-pengobatan di waktu itu dilakukan dengan jalan menyuruh pasien istirahat di tempat tidur, jauh dari keributan dan cahaya, disamping memberikan obat-obat penguat dan penenang.


Penyakit neurasthenia adalah penyakit payah. Orang yang diserangnya akan merasa antara lain: Seluruh badan letih, tidak bersemangat, lekas merasa payah, walaupun sedikit tenaga yang dikeluarkan. Perasaan tidak enak, sebentar-sebentar ingin marah, menggerutu dan sebagainya. Tidak sanggup berfikir tentang sesuatu persoalan, sukar mengingat dan memusatkan perhatian. Apatis, acuh tak acuh terhadap persoalan-persoalan luar karena ia merasa seolah-olah akan ambruk saja sewaktu-waktu. Sangat sensitif terhadap cahaya dan suara, sehingga detik jam, mmenyebabkan tidak bisa tidur. Sering merasa dihinggapi oleh bermacam-macam penyakit, sehingga ia sering kali memeriksakan dirinya kepada dokter. Takut mati, pikirannya selalu diganggu oleh masalah-masalah mati dan penyakit.


Bermacam-macam pendapat ahli tentang sebab penyakit ini, akan tetapi pendapat umum adalah, bahwa penyakit ini disebabkan oleh karena terlalu lama menekan perasaan, pertentangan batin, kecemasan, terhalangnya keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan. Selain itu terlalu banyak menghadapi kegagalan hidup, sering dihadapkan kepada persaingan-persaingan dalam pekerjaan dan kadang-kadang menjadi objek yang dipertentangkan. Semuanya itu menyebabkan kegelisahan/kecemasan dan tertekannya perasaan.






  1. Hysteria


Gangguan jiwa yang sudah dikenal sejak dulu ialah hysteria. Pada permulaan, orang menyangka bahwa yang dihinggapi penyakit ini hanya kaum wanita. Akan tetapi kemudian pendapat itu berubah setelah Freud meenemukan bahwa laki-lakipun dapat dihinggapi penyakit ini.
Seperti gangguan jiwa lainnya hysteria juga terjadi akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi kesukaran-kesukaran, tekanan perasaan, kegelisahan, kecemasan dan pertentangan batin. Dalam menghadapi kesukaran itu orang tidak mampu menghadapinya dengan cara yang wajar, lalu melepaskan tanggung jawab dan lari secara tidak sadar kepada gejala-gejala hysteria yang tidak wajar. Diantara gejala-gejalanya ada yang berhubungan dengan fisik dan ada pula yang berhubungan dengan mental.
Termasuk dalam gejala-gejala fisik antara lain, ialah:
  1. Lumpuh hysteria
Yang dimaksud dengan lumpuh hysteria, adalah lumpuhnya salah satu anggota fisik, akibat tekanan atau pertentangan batin yang tidak dapat diatasi. Biasanya gejala lumpuh itu terjadi tiba-tiba dan si sakit sebelum itu tidak merasa apa-apa.


  1. Cramp hysteria
Cramp hysteria disebabkan pula oleh tekanan perasaan, yang seringkali terjadi pada penulis yang mencari penghidupan dengan tulisan-tulisannya. Apabila ia mengalami bahwa tulisannya tidak banyak mendapat sambutan orang, ia kadang-kadang dihinggapi oleh kram pada jari-jarinya waktu akan menulis. Tapi untuk pekerjaan lain masih bisa digunakan jari-jari itu.
Cramp hysteria itu banyak pula kejadian pada pemain-pemain biola, jurutik, tukang jam dan pegawai-pegawai di kantor telepon. Penyakit-penyakit itu terjadi karena kegelisahan dan kecemasan yang dirasakannya akibat kebosanan menghadapi pekerjaan-pekerjaan itu.


  1. Kejang hysteria
Kejang hysteria yaitu badan seluruhnya menjadi kaku, tidak sadar akan diri, kadang-kadang sangat keras, disertai dengan teriakan-teriakan dan keluhan-keluhan, tapi air mata tidak keluar. Kejang-kejang ini biasanya terjadi pada siang hari selama beberapa hari lamanya. Di antara tanda-tanda kejang hysteria ialah, dalam pandangan matanya terlihat kebingungan.


  1. Mutism (hilang kesanggupan berbicara)
Mutism itu ada dua macam, pertama tak sanggup berbicara dengan suara keras dan kedua tidak dapat berbicara sama sekali.
Hilangnya kemampuan untuk berbicara itu, bukan disebabkan oleh kerusakan pada alat-alat percakapan seperti lidah, kerongkongan, pernapasan dan sebagainya. Alat-alat itu masih dapat melakukan fungsinya, tetapi orang tidak bisa berbicara. Biasanya gejala ini terjadi akibat tekanan perasaan, kecemasan, putus asa, merasa hina, gagal dan sebagainya.


Termasuk dalam gejala-gejala yang berhubungan dengan mental antara lain:


  1. Hilang ingatan (amnesia)
Hilang ingatan atau lupa akan kejadian-kejadian tertentu dlam hidup sangat erat hubungannya dengan emosi. Hilang ingatan atau lupa ini mungkin hanya lupa akan kejadian-kejadian tertentu dan ada pula lupa yang sungguh-sungguh. Ia lupa akan segala sesuatu, akan semua orang yang pernah dikenalnya, bahkan lupa akan dirinya, namanya, rumahnya, pekerjaannya dan sebagainya.


  1. Kepribadian kembar (double personality)
Kepribadian kembar adalah salah satu gejala hysteria, yang disebabkan oleh kegelisahan yang amat sangat, dan dijadikan cara untuk menghukum dirinya atau melepaskan diri dari ketegangan batin, kecemasan atau konflik yang dirasakannya. Dalam hal ini si sakit secara tidak sadar mengurung kepribadiannya yang pertama, sampai terpisah sama sekali dari alam kenyataan. Disamping menghukum diri, hal ini digunakan juga sebagai penarik perhatian orang kepadanya.


  1. Mengelana secara tidak sadar (fugue)
Salah satu gejala hysteria lain ialah, orang pergi mengelana berjalan tanpa tujuan, tidak tahu mengapa ia pergi dan kemana ia pergi.


  1. Jalan-jalan sedang tidur (somnabulism)
Orang yang diserang oleh gejala ini dikuasai oleh sejumlah pikiran dan kenang-kenangan yang berhubungan satu sama lain. Meskipun ia sedang tidur, tapi masih dapat mengenal dan membedakan mana pintu yang tertutup dan mana yang terbuka, dan mudah disuruh kembali ke tempat tidurnya. Waktu bangun pagi harinya, ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya waktu tidur itu.




  1. Psychasthenia


Psychasthenia adalah semacam gangguan jiwa yang bersifat paksaan, yang berarti kurangnya kemampuan jiwa untuk tetap dalam keadaan integrasi yang normal.
Gejala-gejala penyakit ini antara lain :
  1. Phobia
Phobia adalah rasa takut yang tidak masuk akal, atau yang ditakuti tidak seimbang dengan ketakutan. Si sakit tidak tahu mengapa ia takut dan tidak dapat menghindari rasa takut itu. Kadang-kadang rasa takut yang tidak masuk akal itu menyebabkan tertawaan orang, sehingga ia makin merasa cemas. Di antara phobia yang terkenal ialah: takut berada di tempat yang tertutup, tinggi, luas (lapang), di tengah orang ramai, melihat darah, binatang-binatang kecil, kotoran dan sebagainya.


  1. Obsesi
Yaitu gejala gangguan jiwa, di mana si sakit dikuasai oleh suatu pikiran yang tidak bisa dihindarinya. Misalnya seorang gadis yang merasa bahwa ia akan sengsara saja. Apabila ia sedang menimba air, maka ia merasa akan jatuh ke dalam sumur. Ia merasa pula bahwa hidupnya selalu diliputi kesusahan.
  1. Kompulasi
Ialah gangguan jiwa, yang menyebabkan orang terpaksa melakukan sesuatu, baik masuk akal atau tidak. Apabila tindakan itu tidak dilakukannya, maka si penderita akan merasa gelisah dan cemas. Kegelisahan atau kecemasan itu baru hilang, apabila tindakan itu dilakukan.




  1. Gagap berbicara (stuttering)


Gejala gangguan jiwa lainnya ialah gagap berbicara, ada yang dalam bentuk berputus-putus, tertahan nafas atau berulang-ulang. Apabila tekanan gagap itu terlalu besar, maka kelihatan orang menekan kedua bibirnya dengan diiringi gerakan-gerakan tangan dan kaki dan sebagainya.
Biasanya gagap itu mulai pada umur di antara 2 dan 6 tahun. Gejala ini lebih banyak terjadi pada anak laki-laki, anak kembar dan orang kidal, dan mungkin disebabkan karena gangguan fisik seperti kurang sempurnanya alat percakapan, gangguan pada pernafasan, amandel dan sebagainya. Akan tetapi, apabila alat-alat itu sehat dan baik, maka gejala itu timbul akibat pertentangan batin, tekanan perasaan, ketidakmampuan menyesuaikan diri. Gejala itu adalah sebagai salah satu akibat dari gangguan jiwa.




  1. Ngompol (buang air yang tidak disadari)


Banyak orangtua yang mengeluh karena anaknya yang sudah besar masih ngompol saja. Ngompol adalah salah satu dari gejala gangguan jiwa, ada yang hanya malam hari, ada juga yang siang hari.
Seharusnya dalam pertumbuhan anak, makin besar, makin dapat menguasai dirinya dan mengatur bila dan dimana ia harus buang air. Akan tetapi sering terjadi bahwa anak yang tadinya sudah dapat menahan dan mengaturnya sampai umur belasan tahun, masih ngompol saja. Biasanya hal ini terjadi, sebagai akibat dari gangguan jiwa, tekanan perasaan, atau ingin diperhatikan. Anak yang dimanjakan dan jadi pusat perhatian ibu-bapak, berubah menjadi kurang diperhatikan oleh karena adiknya sudah lahir.
Ketidakpuasan si anak atas perlakuan orangtua yang berubah itu,akan menyebabkan ia gelisah dan merasa tertekan, disamping ingin kembali mendapat perhatian seperti dahulu. Maka terjadilah secara tidak sadar, ia buang air kecil di waktu sedang tidur. Dan mungkin pula yang menderita itu anak yang kecil, karena merasa bahwa kakak-kakaknya lebih mendapat perhatian.


  1. Kepribadian psychopathi


Psychopath adalah ketidaksanggupan menyesuaiakan diri yang mendalam dan kronis. Orang-orang yang psychopath itu biasanya menimpakan kesalahan yang dibuatnya kepada orang lain. Segala perasaan tidak puas, konflik jiwa dan tekanan perasaan dan sebagainya, tidak dapat ditahan atau diatasinya dengan wajar, akan tetapi diungkapkannya dalam bentuk kelakuan-kelakuan yang menyebabkan orang lain menderita karenanya. Ia bersifat agresif egois, tidak peduli pada orang lain.
Ciri-ciri dari kepribadian psychopathi antara lain: tidak bisa diberi diberi tanggung jawab, tidak bisa diberi kepercayaan karena ia tidak jujur, kurang mempunyai rasa malu, kelakuannya anti-sosial, kurang mempunyai pertimbangan dan tidak mempunyai rasa kasih sayang, sangat egois, hubungannya dengan orang lain tidak hangat, tak dapat mengikuti satu rencana dalam hidupnya, dan sebagainya.
Gejala-gejala kepribadian psychopath itu, biasanya mulai timbul pada masa-masa puber (13 – 21 tahun) dan berlangsung seumur hidup.




  1. Keabnormalan seksual


Banyak pula persoalan-persoalan yang ada hubungannya dengan seksual baik di kalangan pria maupun wanita, yang timbul akibat gangguan jiwa. Gejala-gejala yang sering dialami antara lain ialah :


  1. Onani (masturbasi)
Orang yang diserang gejala ini mencari kepuasan seksual dengan anggota tubuhnya secara tidak wajar, yang biasanya dilakukan dalam periode tertentu dari hidupnya.




  1. Homo-seksual
Orang yang diserang gejala ini berkeinginan untuk berhubungan dengan orang yang sejenis saja. Mungkin cinta sejenis ini beralasan, dan mungkin pula hanya sepihak, yaitu yang melakukan hal itu hanya satu orang saja. Bahkan hubungan itu mungkin lebih jauh dari itu, yaitu ingin melakukan hubungan seksual dengan orang yang sama jenis kelaminnya.


  1. Sadism
Seseorang tidak dapat merasakan kepuasan seksual, kecuali apabila ia dapat menimbulkan kesakitan (fisik atau perasaan) terhadap orang yang dicintainya. Bahkan mungkin ia melukai, memukul, atau membunuh orang yang dicintainya, demi kepuasan seksualnya.




  1. Gangguan Kesadaran


Kesadaran itu diartikan sebagai “intensionalitas” atau relasi antara subjek-yang-aktif-mengalami dengan objek-yang-dialami. Kesadaran bisa juga diartikan sebagai: pengamatan sendiri, penghayatan sendiri, pengalaman sendiri, dengan sadar dimaksudkan begitu. Sedang ketidaksadaran bisa diartikan sebagai: tidak dimaksudkan sedemikian. Sehubungan dengan itu, studi mengenai unsur ketidak-sadaran dan aktivitas-aktivitas psikis yang tidak disadari itu sangat penting untuk tujuan penanaman proses –proses psikis dan gangguan-gangguan psikis.
Gangguan kesadaran itu merupakan peristiwa di mana segenap kondisi psikis mengalami perubahan, sehingga pribadi menjadi tidak jernih dan tidak ceria secara psikis. Gejala gangguan kesadaran itu ada yang memanifestasikan diri dalam wujud seperti seperti “mengantuk”, dan ada pula seperti “bermimpi”. Pada peristiwa pertama, individu kelihatan bingung, termangu-mangu, dungu dan linglung. Sedang pada peristiwa kedua, pasien mengalami peristiwa-peristiwa seperti kondisi orang sehat yang tengah tidur.




  1. Defisien moral


Defisien/defeckt moral adalah: kondisi individu yang hidupnya delinquent (nakal, jahat), selalu melakukan kejahatan, dan bertingkah laku a-sosial atau anti-sosial; tanpa adanya penyimpangan atau gangguan organis pada fungsi inteleknya, namun inteleknya tidak berfungsi, hingga terjadi kebekuan moral yang kronis.
Pribadinya cenderung psikotis dan mengalami regresi, dengan penyimpangan-penyimpangan relasi kemanusiaan. Sikapnya: dingin, beku, tanpa afeksi, emosinya steril terhadap sesama manusia; munafik, jahat, sangat egoistis, self-centered, tidak menghargai orang lain. Tingkah lakunya selalu salah dan jahat (misconduct); sering melakukan kekerasan, kejahatan, penyerangan; selalu melanggar hukum, norma dan standart social.
Kelemahannya terutama ialah: ketidakmampuannya untuk mengenali, memahami, mengendalikan dan melakukan regulasi terhadap emosi-emosi, impuls-impuls dan tingkah lakunya. Mereka tidak bisa dipercaya. Kualitas mental mereka pada umumnya rendah.
Pembentukan ego-nya sangat lemah, sehingga dorongan-dorongan instinktif yang primer meledak-ledak tidak terkendali. Impuls-impulsnya tetap berada pada tingkat primitive, tidak bisa terkontrol, dengan agresivitas yang meledak-ledak dan rasa permusuhan terhadap siapapun juga.






  1. Damaged Childern


Damaged children adalah: anak-anak dengan perkembangan pribadi yang regresif serta kerusakan pada fungsi intelek, sehingga interrelasi kemanusiannya miskin, beku, steril tanpa afeksi; disertai penolakan terhadap super-ego dan hati nurani sendiri, hingga muncul kebekuan moral.
Mereka digolongkan dalam kelompok defekt moral. Orientasi sosialnya rusak. Banyak dari mereka jadi autis dan psikotis, dengan retardasi mental yang berat. Ada dari mereka yang memperlihatkan gerakan-gerakan yang tipis, yaitu “Rocking movement”, dibarengi gejala-gejala erotik yang primitive. Mereka mudah dipengaruhi hal-hal yang buruk, dan sifatnya sangat egoistis. Pada umunya mereka selalu gelisah, dengan tindakan yang meledak-ledak tanpa kasihan, tanpa ampun, dan tidak tahu belas kasihan. Hatinya beku membantu, tanpa afeksi sama sekali.
Faktor penting yang menyebabkan anak ini ialah: terpisahnya mereka dari orang tua pada usia kurang dari 3 tahun; khususnya pisah dengan ibunya. Misalnya terjadi pada (1) anak-anak haram tanpa mengetahui ayahnya; (2) anak-anak yang dipelihara di rumah sakit, rumah yatim piatu dan panti-panti penitipan, dimana mereka tidak pernah merasakan kasih sayang. Bahkan mereka mendapat perlakuan yang keras dan kejam, sehingga muncul rasa-rasa dendam, agresi, kebekuan emosional dan interrelasi sosial yang sangat miskin. Anak-anak ini kebanyakan akan menjadi orang dewasa yang defisien moral.




  1. Psikosa/Psikosis


Psikosa/psikosis adalah bentuk kekalutan mental yang ditandai dengan adanya disintegrasi kepribadian, dan terputusnya hubungan dirinya dengan realitas.
Individu disebut psikotis apabila:
  1. Reality-testingnya terganggu sama sekali, sehingga fikiran dan tanggapannya tidak sesuai dengan realitas, lalu dihinggapi halusinasi-halusinasi dan delusi-delusi (waham, denkbeelden).
  2. Oleh disintegrasi kepribadiannya, orang mengalami kakalutan organis, kakalutan fungsional dan kekalutan fungsi-fungsi kejiwaan, misalnya pada inteligensi, kemauan dan perasaannya. Hubungan dirinya dengan dunia luar dan realitas terputus, dan dia hidup dalam dunia yang tidak riil, dalam satu “imaginary social world” yang diciptakannya sendiri. Sehingga dirinya menjadi tidak competent secara sosial, dan tidak bias memikul tanggung jawab atas segala tingkah lakunya.
  3. Individu mereaksi (memaksa dan mencernakan) terhadap tekanan-tekanan internal serta eksternal dengan cara yang keliru dan merugikan. Sehingga semakin banyak muncul gangguan afektif yang serius, ketakutan dan kecemasan-kecemasan hebat, delusi dan halusinasi. Ringkasnya, kehidupan psikisnya jadi kacau-balau atau khoatis, dan si penderita tidak berdaya, serta mampu meluruskan kekusutan batinnya.


Jika kita kekurangan vitamin atau mineral, maka kita secara perlahan akan menjadi lemah, dan mungkin jatuh sakit. Kita tidak segera menyadari kekurangan tersebut, tetapi efeknyalah yang memberi tahu kita. Hal serupa juga dapat terjadi jika kita kekurangan gizi secara emosional, intelektual dan spiritual.


























D. SAKIT JIWA




Sakit adalah: terganggu atau tidak berlangsungnya fungsi-fungsi psikis dan fisis; yaitu ada kelainan dan penyimpangan yang mengakibatkan kerusakan dan bahaya pada organ atau tubuh, sehingga bisa mengancam kehidupan.
Sakit pada fungsi suatu organisme mengakibatkan perubahan-perubahan dalam substansi (materi) dan organisme. Substansi, fungsi, kemudian perubahan-perubahan dalam substansi dan gangguan-gangguan dalam fungsi, semuanya erat berkaitan satu sama lain. Gangguan psikis bisa disebabkan oleh bakteri, virus, radang, luka-luka, dst. Yang organis sifatnya. Namun gangguan jiwani juga bisa disebabkan oleh faktor-faktor psikis. Contohnya: perasaanperasaan, terutama konflik-konflik perasaan, bisa menyebabkan timbulnya penyakit jasmaniah maupun rokhaniah, atau bisa menghambat proses kesembuhan suatu penyakit. Ketegangan-ketegangan psikis yang kronis juga menimbulkan macam-maacam penyakit; misalnya: penyakit lambung, hypertensi, dan tumpat jantung (hartinfarct).
Betapa banyak orang pergi ke dokter dengan macam-macam keluhan penyakit, namun tanpa menderita suatu penyimpangan jasmaniah, atau tanpa satu gangguan fungsi jasmaniah. Mereka selalu lesu, lelah, gelisah-gelisah, tidak bisa tidur, cemas, pusing-pusing, sering mau muntah, menderita gangguan perut, merasakan detak-detak yang aneh pada jantung, merasa impoten secara seksual dls. Maka gangguan psikis sedemikian itu pada umumnya disebabkan oleh:
  1. Konflik-konflik batin, dan
  2. Kondisi-kondisi sosial yang sangat sulit, lingkungan sosial yang sangat tidak menguntungkan.


Pandangan terhadap penyakit jiwa telah berubah dari zaman ke zaman. Dahulu orang menganggap orang sakit jiwa itu orang yang disentuh oleh setan atau roh yang jahat. Cara mengobatinya adalah dengan melobangi ubun-ubun si pasien supaya setan melarikan diri, atau si pasien diikat dengan rantai disiksa dan dilarang makan. Kemudian Hyprocritus (460-370 s.m) member pendapat yang mengatakan bahwa otak adalah pusat kegiatan akal dan penyakitnya menjadi sebab penyakit akal (jiwa).
Hyprocritus membuang jauh-jauh segala khurafat lama dan sihir. Dianjurkannya berbagai macam cara mengobati penyakit akal, diantaranya dengan music. Tetapi fikiran-fikiran ini terkubur semuanya, sedang sihir dan khurafat kembali berkuasa pada zaman pertengahan. Pengaruh sihir demikian besar sehingga Raja George III ketika ditimpa gangguan jiwa beliau diobati seperti teknik-teknik pengobatan yang berlaku pada masa itu oleh dokter-dokter di negeri inggris, yang menyebabkan parlemen turut campur dan menganjurkan perbaikan.


Pada permulaan abad ke 19 sudah terdapat kemajuan besar dalam memasukkan teknik-teknik perikemanusiaan dalam memperlakukan pasien-pasien di rumahsakit-rumahsakit jiwa. Pada waktu itu juga diciptakan cara yang sudah bersifat ilmiah yang disebut “magnetism” oleh Braid. Teknik ini telah digunakan oleh perancang-perancang awal dalam mengobati berbagai gangguan psikologi.


Pada waktu perobatan psikologi lebih tertarik pada patologi dan penjenisan penyakit akal, Kripllin seorang professor pengobatan akal di Heldleberg, menciptakan penjenisannya yang terkawal yang mengandung konsep bisu lebih awal dan psikosis depresiff. Disiapkan oleh Kripllin sejumlah ujian-ujian ingatan, kelelahan (fatigue), pengajaran dan proses menghitung untuk mengukur apa yang dianggapnya sebagai cirri-ciri dasar seseorang. Ujian-ujian ini termasuk salah satu percobaan-percobaan awal untuk menggunakan alat-alat psikologis (psychological tools) untuk meneliti penyakit jiwa.


Seorang yang diserang penyakit jiwa (Psychose), kepribadiannya terganggu, dan selanjutnya menyebabkan kurang mampu menyesuaikan diri dengan wajar, dan tidak sanggup memahami problemnya. Seringkali oprang yang sakit jiwa, tidak merasa bahwa ia sakit; sebaliknya ia menganggap dirinya normal saja, bahkan lebih baik, lebih unggul dan lebih penting dari orang lain. Sakit jiwa itu ada dua macam, yaitu:


  1. Sakit jiwa yang disebabkan oleh adanya kerusakan pada anggota tubuh, misalnya: otak, sentral syaraf, atau hilangnya kemampuan berbagai kelenjar, syaraf-syaraf atau anggota fisik lainnya untuk menjalankan tugasnya. Hal ini mungkin disebabkan oleh keracunan akibat minuman keras, obat-obat perangsang atau narkotika, akibat penyakit kotor dan sebagainya.


  1. Sakit jiwa yang disebabkan oleh gangguan-gangguan jiwa yang telah berlarut-larut sehingga mencapai puncaknya tanpa suatu penyelesaian secara wajar. Atau disebabkan hilangnya keseimbangan mental secara menyeluruh, akibat suasana lingkungan yang sangat menekan, ketegangan batin, dan sebagainya.


Diantara penyakit jiwa yang terkenal ialah:
  1. Schizophrenia


Schizophrenia adalah penyakit jiwa yang paling banyak terjadi dibandingkan dengan penyakit jiwa lainnya. Penyakit ini menyebabkan kemunduran kepribadian pada umumnya, yang biasanya mulai tampak pada masa puber, dan yang paling banyak menderita adalah orang berumur antara 15-30 tahun.
Gejala-gejala yang penting antara lain:
  • Dingin perasaan, tak ada perhatian pada apa yang terjadi di sekitarnya. Tidak terlihat padanya reaksi emosional terhadap orang yang terdekat kepadanya, baik emosi marah, sedih, dan takut. Segala sesuatu dihadapinya dengan acuh tak acuh.


  • Banyak tenggelam dalam lamunan yang jauh dari kenyataan, sangat sukar bagi orang untuk memahami pikirannya. Dan ia lebih suka menjauhi pergaulan dengan orang banyak, dan suka menyendiri.
  • Mempunyai prasangka-prasangka yang tidak benar dan tidak beralasan, misalnya apabila ia melihat orang menulis atau membicarakan sesuatu, disangkanya bahwa tulisan atau pembicaraan itu ditujukan untuk mengritik atau mencelanya.


  • Sering terjadi salah tanggapan atau terhentinya pikiran, misalnya orang sedang berbicara tiba-tiba lupa apa yang dikatakannya itu. Kadang-kadang dalam pembicaraan ia berpindah dari satu masalah kepada masalah lainyang tak ada hubungan sama sekali dengan perkataanya semula, atau pembicaraaanya tidak jelas ujung pangkalnya.


  • Halusinasi pendengaran, penciuman atau penglihatan, di mana si penderita seolah-olah mendengar, mencium, atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Ia seakan-akan mendengar orang lain (tetangga) membicarakannya, atau melihat sesuatu yang menakutkannya.


  • Si sakit banyak putus asa dan merasa bahwa ia adalah korban kejahatan orang banyak atau masyarakat. Merasa bahwa orang semualah yang bersalah yang menyebabkannya menderita.


  • Keinginan menjauhkan diri dari masyarakat, tidak mau bertemu dengan orang dan sebagainya, bahkan kadang-kadang sampai kepada tidak mau makan atau minum dan sebagainya, sehingga dalam hal ini ia harus diinjeksi supaya dapat tertolong.


Apapun sebab sesungguhnya, namun terbukti bahwa kebanyakan penyakit ini mulai menyerang setelah orang menghadapi satu peristiwa yang menekan, yang berakibat munculnya penyakit yang mungkin sudah terdapat secara sembunyi di dalam diri orang itu. Sebab-sebab langsung itu adalah sebagai factor pendorong, misalnya kesukaran ekonomi, keluarga atau gagal dalam hubungan muda-mudi. Di antara factor pendorong itu terdapat pula kegelisahan yang timbul akibat terlalu lama melakukan onani, sehingga merasa berdosa atau menyesal, sedang menghentikannya tidak sanggup.
Penyakit ini biasanya lama sekali perkembangannya, mungkin dalam beberapa bulan atau beberapa tahun, baru ia menunjukkan gejala-gejala yang ringan, tapi akhirnya setelah peristiwa tertentu, tiba-tiba terlihat gejala yang hebat sekaligus.




  1. Paranoia


Salah satu penyakit jiwa yang terkenal pula adalah penyakit paranoia, “gila kebesaran”, atau “gila menuduh orang”. Penyakit ini tidak banyak terjadi, kadang-kadang hanya satu atau dua orang saja yang terdapat menjadi penghuni dari salah satu rumah sakit jiwa. Biasanya penyakit ini mulai menyerang orang sekitar umur 40 tahunan.
Di antara ciri-ciri khas dari penyakit ini adalah delusi, yaitu suatu pikiran salah yang menguasai orang yang diserangnya. Delusi ini berbeda bentuk dan macamnya sesuai suasana dan kepribadian si sakit, misalnya:


  • Si sakit mempunyai satu pendapat (keyakinan) yang salah, segala perhatiannya ditujukan kesana dan yang satu itu pula yang menjadi buah tuturnya, sehingga setiap orang yang ditemuinya akan diyakinkannya pula akan kebenaran pendapatnya itu. Misalnya ada seorang suami yang menyangka bahwa istrinya berniat jahat kepadanya dan akan meracuninya. Maka selalu diusahakannya menghindari makan di rumah, karena takut akan termakan racun itu.
  • Si sakit merasa bahwa ada orang yang jahat kepadanya dan selalu berusaha untuk menjatuhkan atau menganiayanya.
  • Si sakit merasa bahwa dirinya orang besar, hebat tiada bandingya, dia meyakini bahwa dirinya adalah seorang pemimpin yang terbesar atau mungkin ia mengaku Nabi.
Delusi atau pikiran salah yang dirasakan oleh si sakit itu, sangat menguasainya dan tidak bisa hilang. Kecuali itu jalan pikirannya terlihat teratur dan tetap. Pada permulaan orang akan menyangka bahwa pikirannya itu logis dan benar. Biasanya orang yang diserang oleh paranoia itu cerdas, ingatannya kuat, emosinya terlihat berimbang dan cocok dengan pikirannya. Hanya saja ia mempunyai satu kepercayaan salah dan segala perhatian dan perkataannya dalam hidup dikendalikan oleh pikiran yang salah itu.
Sebernanya kita harus membedakan antara sakit paranoia yang sungguh-sunguh dengan kelakuan paranoid. Orang yang mempunyai kelakuan paranoid, yang tentunya juga abnormal, adalah:


  • Terlihat sekali dalam segala tindakannya, bahwa ia egois, keras kepala dan sangat berkeras atas pendirian dan pendapatnya.
  • Tidak mau mengakui kesalahan atau kekurangannya, selalu melemparkan kesalahan pada orang lain, dan segala kegagalannya disangkanya akibat dari segala campur tangan orang lain.
  • Ia berkeyakinan bahwa dia mempunyai kemampuan dan kecerdasan yang luar biasanya istimewanya. Ia berasal dari keturunan yang jauh lebih baik dari orang lain dan merasa bahwa setiap orang iri, dengki dan takut kepadanya.
  • Dalam persaudaraan ia tidak setia, orang yang tadinya sangat dicintainya, akan dapat berubah menjadi orang yang sangat dibencinya oleh karena sebab yang remeh saja.
  • Orang ini tidak dapat bekerja yang membutuhkan kepatuhan kepada pimpinan, karena ia suka membantah atau melwan dan mempunyai pendapat sendiri, tidak amu menerima nasehat atau pandangan orang lain yang berlainan dengan pendapatnya.


  1. Manic-Depressive.


Penyakit jiwa yang terkenal juga adalah manic-depressive, dimana penderitanya mengalami rasa besar/gembira yang kemudian berubah menjadi sedih/tertekan.
Gejala-gejalanya ada dua macam, yaitu:


  1. Mania, yang mempunyai tiga tingkatan, yaitu ringan (hypo), berat (acute) dan sangat berat (hyper).
Dalam tidakannya orang yang diserang oleh mania ringan terlihat selalu aktif, tidak kenal payah, suka menguasai pembicaraan, pantang ditegur perkataan atau perbuatannya, tidak tahan mendengar kecaman terhadap dirinya. Biasanya orang ini suka mencampuri urusan orang lain yang tidak ada hubungan dengan dirinya.


Dalam mania yang berat (acute), orang biasanya diserang oleh delusi-delusi pada waktu-waktu tertentu, sehingga sukar baginya untuk melakukan suatu pekerjaan dengan teratur. Si sakit mengungkapkan rasa gembira dan bahagianya secara berlebih-lebihan. Kadang-kadang ia diserang oleh lamunan yang dalam sekali, sehingga tidak dapat ia membedakan tempat, waktu dan orang-orang sekelilingnya.


Dalam hal mania yang sangat berat (hyper) orang yang diserangnya kadang-kadang membahayakan dirinya sendiri dan mungkin membahayakan orang lain dalam sikap dan perbuatannya.


Penyakit ini dinamakan juga “gila kumat-kumatan”, karena si sakit berubah-ubah dari rasa lega dan gembira yang berlebih-lebihan, sudah itu bisa kembali, atau menurun menjadi sedih, muram dan tak berdaya.
Dalam hal pertama penderita berteriak, mencaci-maki, marah-marah dan sebagainya, kemudian kembali kepada ketenangan biasa, dan bekerja seperti tidak ada apa-apa.
Dalam hal kedua mungkin ia sangat emosional, marah, mencaci-maki, memukul orang, ingin menghancurkan segala sesuatu, tertawa terbahak-bahak dan sebagainya. Kemudian dalam sebentar waktu berubah menjadi tenang kembali, bahkan kelihatan menjadi sedih, murung, rendah dan kecil hati.


  1. Melancholia (rasa tertekan)
Dalam melancholia orang selalu terlihat murung, sedih dan putus asa. Ia merasa diserang oleh bermacam penyakit yang tidak bisa sembuh, atau merasa telah berbuat dosa yang tidak mungkin diampuni lagi. Bahkan kadang-kadang ia menyakiti dirinya misalnya menyayat-yayat kemaluannya, sering pula si sakit berusaha membunuh orang-orang yang paling dicintainya dan kemudian bunuh diri, karena ia merasa kasihan kepada mereka. Melancholia inipun bertingkat-tingkat pula, yaitu: ringan, berat dan involusi (hilangnya kesuburan).


Orang yang diserang oleh penyakit melancholia yang ringan, merasa bahwa kegiatan pikiran dan fisiknya berangsur kurang, sering mengeluh tentang nasibnya yang tidak baik dan merasa tak ada jalan untuk memperbaikinya. Karena itu ia tidak mau ikut aktif dalam hal apapun, bahkan ia nerasa tidak ada gunanya ia hidup.


Dalam hal melancholia berat si sakit menjauhkan dirinya sama sekali dari masyarakat, tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya. Gejalanya yang paling menonjol ialah si sakit merasa bahwa ia telah terlanjur berbuat dosa atau kesalahan-kesalahan besar yang tidak terampuni lagi, ia mersa seolah-olah dialah yang telah menyebabkan orang menderita bahaya dan kesengsaraan.


Melancholia yang ketiga adalah yang terkenal dengan melancholia pada umur putus asa, dimana orang yang dihinggapinya telah mencapai umur putus asa karena habisnya kesuburan (involusi). Permulaanya berbeda antara laki-laki dengan wanita. Pada wanita kira-kira pada umur 40-50 tahun, sedang laki-laki pada umur 50-65 tahun. Orang-orang pada umur ini menampakkan gejala-gejala kelambanan karena habisnya hormon. Kekuatan pikiran dan fisik mulai berkurang.


Diantara ciri-ciri penyakit ini ialah, orang yang sakit merasa curiga dan putus asa, gelisah, pelamun. Mungkin ia akan keluar masuk kamar sambil mengeluh, menarik-narik rambutnya, mengempas-empaskan tangannya, menyesali dirinya. Biasanya ia tidak mau makan dan marah kepada orang-orang yang mencoba mendekatinya. Banyak ahli yang menyangka bahwa kehabisan hormonlah yang menyebabkan penyakit itu.


Demikianlah antara lain gejala-gejala gangguan dan penyakit jiwa yang membuktikan betapa besar akibatnya bila ternganggunya kesehatan mental seseorang, yang akan menghilangkan kebahagian dan ketenangan hidupnya.
Sebab-sebab yang membawa orang kepada kehidupan yang tidak bahagia adalah jauh dari mental yang sehat. Bahkan jatuh dalam kondisi sakit jiwa ini semua terjadi tidak lepas pengalaman dimasa lampau. Demikian pula pada pendidikan yang diterima orang tua dari sekolah dan suasana yang membesarkan individu tersebut. Karena itu lingkungan rumah tangga sekolah dan masyarakat mempunyai peranan penting dalam membentuk kesehatan mental individu.


E. PENYAKIT HATI




Hidup sehat menurut tasawuf dapat pula dijalani dengan membuang penyakit-penyakit hati seperti ujub, takabur, ria’, dengki, dendam, benci, pemarah, pelit, serakah, tamak, dusta, menipu, mefitnah, khianat, ghibah, naminah, keras hati, gengsi, dan keluh kesah. Semua orang yang mengidap penyakit hati ini sering dihinggapi perasaan resah dan gelisah, terutama kalau harapanya tidak terpenuhi. Seseorang misanya, mengharapakn pujian tetapi orang-orang yang dia harapkan tidak memujinya atau malah mencemoohnya, maka dia akan kecewa dan gelisah. Bisa jadi karena itu dia merasa tertekan (stress) dan jatuh sakit. Lebih dari itu, penyakit hati termasuk penyakit jiwa yang buruk dan tercela karena dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.


Beberapa penyakit hati seperti dibawah ini:
  1. Ujub


Ujub adalah sikap yang menganggap diri sendiri sebagai ajaib dan menakjubkan dengan kata lain melebih-lebihkan/ membanggakan diri sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari indikasi adanya ujub pada diri kita antara lain ialah mulai gemar berkata batin dan lisan: “kalau bukan saya mana bisa”, “untung ada saya” dan sebagainya. Termasuk ujub itu ialah mementingkan diri sendiri penting dan mudah tersinggung bila diabaikan, misalnya berkata: “saya ini dianggap apa”, “yang menentukan siapa”, “yang berkuasa disini siapa” dan sebainya. Ungkapan-ungkpan semacam itu tedengar aneh dan berlebihan. Tetapi, kalau benar-benar kita amati dalam pergaulan sehari-hari kita cukup kaget menemukan banyak sikap yang demikian terdapat pada banyak orang termasuk kita sendiri. Kalau kita mau jujur pada diri sendiri dan intropeksi.
Karena itu kita harus selalu mawas diri sebab sesungguhnya ujub itu merupakan kelemahan diri sendiri. Ujub atau sifat memuji diri sendiri merupakan kelakuan yang tidak simpatik sehingga membuat orang lain menyingkir dari kita. Kalau kita memuji diri sendiri berkenaan dengannhal-hal yang barang kali memang sungguh-sungguh ada pada kita, maka kita dikatakan ujub. Tetapi bila tidak ada pada kita maka kita terindikasi sebagai orang munafik. Ujub menimbulkan berbagai pengaruh negatif dalam penderitanya keanggkuhan dan lupa terhadap dosa-dosa.




  1. Takabur


Takabur/ congkak/ angkuh adalah sikap jiwa yang menganggap diri lebih baik daripada orang lain atau merendahkan orang lain. Nabi Muhammad, S.A.W. Bersabda, “ Kecongkakan ialah menolak kebenaran dan melecehkan orang” (H.R. Muslim dan Tirmizi).




  1. Ria’


Menurut Muhammad Mahdi bin abi Dzar al-Naraqi, Ria’ adalah melakukan sesuatu yang bukan karena Alloh, SWT. Melainkan untuk pamer. Hal ini termasuk penyakit hati yang bisa membunuh kehidupan beragamanya.




  1. Dengki


Dengki ialah menginginkan musnahnya keberuntungan seseorang/ orang lain. Memang diantara penyakit ahti dengki atau hasad adalah salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama. Kita disebut dengki apabila kita tanpa alas an jelas apalagi alasan yang tidak adil kita tidak senang pada orang lain yang mereka punyai/ miliki.




  1. Dendam


Rasa dengki kadang-kadang menjadi dendam. Dengki dan dendam pada prinsipnya sama yaitu rasa iri dan benci kepada orang yang menjadi sasaranya, tetapi dengki biasanya tertutup, sedangkan dendam lebih agresif sehingga kadang terbuka seperpti memusuhi sasaranya secara terang-terangan dengan cara memfitnah, menjelek-jelekan, membongkar keburukanya dan menyerangnya secara fisik.




  1. Benci


Rasa benci terjadi karena kemarahan yang tertekan. Hal ini biasanya disertai dengan dengki dan dendam serta menyebakan putusnya hubungan persahabatan dengan orang yang dibenci. Tidak jarang rasa benci itu dilampaiskan dengan fitnah, bongkar keburukkan, kadang malah menunjukkan rasa bencinya dengan terbuka mencaci maki dan menyerang secara fisik. Kalau itu terjadi pastilah merugikan orang lain.
Rasa benci, sebagiamana kebalikannya rasa cinta, yang sebenarnya merupakan hal yang manusiawi. Karena itu benci dan cinta tidak dapat kita hindari. Yang penting disini adalah pengendalian diri agar tidak berkembang secara berlebihan, dan usahakan sekedarnya saja. Ada sebuah syair Arab menyatakan:
Cintailah orang yang kamu cintai, tetapi tidak perlu berlebihan, karena suatu saat nanti dia akan jadi orang yang kamu benci.
Dan bencilah orang yang kamu benci sekedarnya saja, tetapi jangan berlebihan, karena suatu saat orang yang kamu benci adalah orang yang kamu cintai.
Mengobati penyakit rohani tentu tidak sama dengan mengobati penyakit jasmani. Dalam mengobati penyakit jasmani, inisiatif mungkin bisa muncul dari orang lain, tetapi kalau penyakit rohani diperlukan tekad dari si penderita itu sendiri









  1. Marah


Rasa marah sebenarnya manusiawi dan kadang diperlukan untuk mempertahnkan diri, keluarga, agama dan tanah air. Karena itu kemarahan yang tidak boleh adalah kemarahan yang tidak pada tempatnya. Kemarahan itu harus dikendalikan atau ditahan.
Pandai menahan amarah dan mudah memaafkan sesame manusia adalah dua kualitas kemanusian yang terkait satu sama lain bagaikan dua muka dari satu keeping uang logam-dua aspek dari satu hakikat yang tidak dapat dipisahkan.
Jadi kemarahan itu lebih baik ditahan dan diganti dengan sikap pemaaf kepada sesama makhluk pada umumnya. Jika kita jalani petunjuk tuhan, pasti terbukti jauh lebih sehat dibandingkan sebaliknya.




  1. Kikir/ Pelit


Kikir atau pelit dalam bahasa arab disebut bakhil atau bukhil yaitu tidak memberikan harganya pada saat harta itu perlu disumbangkan kepada yang memerlukannya. Misalnya, pada saat orang lain mengumpulkan dana untuk diberikan kepada fakir miskin dia tidak ikut menyumbang. Kebalikan kikir adalah sikap boros; membelanjakan hartanya secara berlebihan pada saat harus hemat.
Sikap kikir tidak hanya terjadi dalam kehidupan social, tetapi tidak mengeluarkan zakat hartanya atau berzakat tetapi jumlah yang seharusnya juga tidak memberikan infak dan sedekah kepada fakir miskin. Harus disadari bahwa harta itucepat atau lambat akan ditinggal dan hanya amal saleh yang akan menyertainya ke akhirat kelak.


Jiwa itu tiga macam: jiwa nabati, jiwa hewani, dan jiwa insane. Kenikmatan jiwa nabati berasal dari makan dan minum. Kenikmatan jiwa hewani berasal dari hubungan seks dan berbagai tindakan yang diakbatkan oleh amarah. Kenikmatan insan berasal dari mendapatkan pengetahuan ilahi, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan mencintainya-Nya











  1. Serakah


Serakah ialah suatu keadaan jiwa yang membuat manusia tidak puas dengan apa yang dimiliki yang lebih banyak lagi. Keserakahan ini tidak hanya meliputi pada kepemilikan harta, tetapi juga terhadap makanan, minuman, kegiatan seksual, dan sebagainya. Ini termasuk penyakit hati yang tercela dan tidak sehat, karena hati orang serakah tidak pernah tenang, puas, dan selalu merasa kekurangan dank arena itu didorong berbuat buruk, misalnya menipu, mencuri, manipulasi, korupsi dan sebagainya untuk memenuhi nafsu serakahnya terhadap harta dan kedudukanya.
Lawan dari serakah adalah qanaah/ mersa cukup hal ini dapat membuat orang mengendalikan keinginanya yang tidak baik dan merasa cukup terhadap apa yang telah dimilikinya. Orang yang berbuat kebajikan itu hidup lebih terhormat, terpandang, dan merdeka dia kebal terhadap penyakit yang ditimbulkan kelimpahan harta didunia serta hukumana di akhirat.
Penyakit serakah itu dapat disembuhkan dengan merenungkan keburukan dan akibat-akibatnya yang merugikan dan menyadari bahwa serakah merupakan perangai hewan yang tidak mengenal batas dan kepuaasan serta menggunakan segala cara, termasuk yang haram sekalipun dalam memenuhi tuntutan nafsu serakahnya.


  1. Tamak


Tamak ialah terkaitnya hati atau mengincar apa yang dimiliki atau berada pada orang lain. Tamak termasuk penyakit hati yang harus dibuang oleh orang yang ingin hidup sehat. Penyakit hati ini disebabkan oleh sikap yang terlalu cinta kehidupan dunia, tidak mengerti hidup bermasyarakat bahwa orang harus saling menolong dan bukannya saling iri dan menjatuhkan. Penyakit hati ini juga disebabkan oleh sikap yang tidak memercayai takdir Allah yang telah menentukan nasib hamba-Nya masing-masing. Lawan tamak ialah tidak tergantung pada orang lain dan tidak memusingkan diri dengan apa yang dimiliki atau dikuasai oleh orang lain.
Sifat tamak dapat dihilangkan dengan berusaha semaksimal mungkin tanpa tergantung pada orang lain, mayakinkan diri sendiri bahwa berapapun yang diperoleh adalah takdir Tuhan yang harus diterima secara ikhlas, karena Tuhan telah memberi kelebihan kepada setiap orang, hanya saja kelebihan itu berbeda satu sama lain. Karena itu, cara lainnya untuk membuang sifat tamak ialah tidak mempersoalkan segala sesuatu yang Tuhan berikan kepada orang lain. Setelah itu hendaknya kita bersikap menyerah sepenuhnya kepada Tuhan agar selalu memelihara kita dengan kemaslahatan dan kebaikan dari apa yang telah kita miliki.




  1. Dusta


Dusta termasuk penyakit hati dan kelakuan buruk yang merugikan diri sendiri dan orang lain, bahkan masyarakat umumnya, tergantung dilevel mana orang itu berada dalam masyarakat dan negara. Kerugian bagi diri sendiri adalah bahwa pendusta atau pembohong akan dijauhi, dibenci, dan dihujat oleh orang yang dirugikan dan orang yeng mengetahui kelakuan buruknya. Sedangkan kerugian bagi orang lain adalah bahwa kelakuan buruk ini dapat merusak tatanan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Misalnya, salah satu wujud dusta itu ialah perbuatan korupsi.




  1. Menipu


Tindakan menipu merupakan saudara kembar dusta. Orang yang menipu pasti berdusta, karena tindakan penipuan selalu disertai dengan perkataan yang tidak benar yang menyebabkan korbannya tertipu. Karena itu, sebagaimana halnya dusta, maka tindakan menipu juga merupakann penyakit hati dan perbutan tercela.
Tindakan menipu juga merugikan diri sendiri dan orang lain. Orang yang dikenal suka menipu tidak akan dipercaya kalau berbicara, malah akan dijauhi oleh orang-orang disekitarnya. Kemudian, orang yang suka menipu jika mendapat kesempatan memimpin suatu tugas akan sangat berbahaya, karena akan melakukan tindakan yang merugikann tugas dan orang-orang yang dipimpinnya, seperti kasus korupsi. Tindakan menipu bisa terjadai antarpribadi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, pedagang bisa menipu pembelinya.




  1. Fitnah


Fitnah adalah perkataan bohong atau tanpa didasari kebenaran yang disebarkan dengan maksud memburuk-burukkan orang, seperti menodai nama baiknya, merusak kehormatannya, dan semacamnya. Jadi, fitnah termasuk perbuatan dusta, sehingga hukumnya haram dan tercela. “ fitnah lebih kejam dari pembunuhan”.
Sesungguhnya orang beriman biasa berkompetisi dan orang munafik biasa mendengki” (Al-Hadist).
Fitnah merupakan penyakit hati yang harus dibuang. Caranya ialah menjauhi segala penyebabnya, seperti mengikuti hawa nafsu dan persaingan duniawi yang tidak adil. Kemudian menekan gejala fitnah dengan menutup peluang munculnya penyakit hati ini, seperti hati-hati dalam berbicara, berbicara seperlunya atau tidak berlebihan, kalau berbicara selalu berdasarkan fakta yang benar, dsb.


  1. Khianat


Khianat adalah perbuatan tidak setia, tipu daya atau perbuatan yang bertentangan dengan janji. Ini juga merupakan perbuatan tercela dan penyakit hati yang harus dijauhi. Tuhan berfirman:
Hai orang-orang yang beriman!
Janganlah khianati Allah dan Rasul.
Dan janganlah khianati amant-amanat
yang dipercayakan kepadamu,
sedang kamu mengetahui (al-Anfal 8:27)
Selain itu Rasulullah bersabda, “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: Bila berkata dia dusta, bila berjanji dia mangkir, dan bila dipercaya dia khianat” (H.R. Muslim). “Bila sikap amanah (dapat dipercaya) hilang, maka tunggulah datangnya kehancuran” (H.R. Bukhari).
Firman Tuhan dan hadist-hadist itu tegas melarang sifat khianat dan memerintahkan kebalikannya, yaitu amanah (dapat dipercaya). Tuhan berfirman: “Sungguh Allah memerintahkan kepadamu menyampaikan amanat kepada orang (yang berhak menerimanya)” (An-Nisa’ 4: 58)
Sifat khianat dilarang karena merugikan diri sendiri dan orang lain. Orang yang diketahui suka berkhianat akan dijauhi dan dibenci oleh orang lain. Kalau orang yang suka khianat memegang suatu jabatan boleh jadi akan menyalahgunakan jabatan itu, seperti memperkaya diri sendiri secara tak sah atau korupsi, dan ini jelas merugikan orang lain.
  1. Gibah


Gibah berarti mempergunjingkan orang lain, yakni, membicarakan hal-hal yang tidak disukai oleh orang yang dibicarakan kalau dia mendengarnya, seperti kondisi fisiknya, akhlaknya, nasab atau keturunannya, kehidupan agamanya, pakaiannya, rumahnya, kendaraanya, dan sebagainya. Orang yang suka mempergunjingkan orang lain termasuk perbuatan tercela, penyakit hati, dan orang seperti itu dalam Alquran diibaratkan orang suka memakan daging saudaranya sendiri yang sudah meninggal.




  1. Namimah


Namimah berarti menghasut orang dengan menyampaikan kabar bohong dan fitnah tentang orang lain. Ini juga disebut tukang adu domba atau sekarang populer dengan istilah “provokator”. Perbuatan ini tercela dan merupakan penyakit hati yang harus ditepis. Sabda Rasulullah : “Tidak masuk surge orang yang suka menghasut” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Namimah tercela karena menyebarkan dusta, fitnah, kebencian, dan permusuhan di tengah masyarakat. Padahal sebenarnya mereka tidak saling membenci dan bermusuhan. Orang-orang yang saling membenci dan bermusuhan sekalipun harus didamaikan, bukan justru orang yang tidak bermusuhan dihasut suoaya bermusuhan.










  1. Keras Hati


Keras hati disebut fazh atau fizhazh, yaitu watak dan sikap keras yang ditunjukkan dengan perangai dan bicara kasar seseorang yang menyebabkan orang lain bersikap canggung, bahkan antipasti dan benci kepadanya. Ini disebabkan oleh kesombongan, ujub, dan kecenderungan merendahkan orang lain. Sikap ini tercela dan tidak sehat.
Orang yang keras hati akan terisolasi, dibenci oleh orang lain, mudah meluapkan kemarahannya kepada orang lain yang tidak sepaham, jauh dari rahmat Allah dan menjadi orang yang celaka.
Sikap tercela itu dapat dibuang dengan memahami bahwa Allah menciptakan keistimewaan dan kekurangan pada setiap orang agar mereka bergaul,bekerja sama, dan tolong-menolong, berkata sopan dan beradaptasi dengan lingkungannya.




  1. Gengsi


Gengsi disebut waqahah, yaitu sikap menjauhi ajaran agama karena khawatir harga diri jatuh atau dianggap kuno. Misalnya sikap orang yang tinggi kedudukannya atau kaya yang tidak mau bergaul dengan orang yang rendah kedudukannya dan miskin, tidak mau membantunya atau tidak mau mengerjakan pekerjaan yang dianggap rendah.
Itu semua terjadi karena rasa malu, yaitu rasa malu yang bersifat negatif.






  1. Keluh Kesah


Keluh kesah disebut al-jaza, yaitu ketidaksanggupan seseorang dalam memikul musibah atau bencana yang menimpanya, kemudian menampakkannya dengan ucapan, perbuatan, dan sikap keluh kesah. Orang yang bersikap seperti ini tidak akan mampu bepikir jernih, karena hatinya tidak tenteram. Keadaan jiwa seperti ini bisa jadi menimbulkan bencana yang lain, karena pikiran dan hati yang tidak tenteram itu.




































F. KESEHATAN MENTAL


Kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psychose).





Orang menderita gangguan jiwa bila: sering cemas tanpa diketahui sebabnya, malas, tidak ada kegairahan untuk bekerja, rasa badan lesu dan sebagainya. Gejala-gejala tersebut dalam tingkat lanjutannya terdapat pada penyakit anxiety, neurasthenia dan sebagainya. Sedangkan sakit jiwa adalah orang yang pandangannya jauh berbeda dari pandangan orang pada umumnya, jauh dari realitas, yang dalam istilah sehari-hari kita kenal miring, gila dan sebagainya.


Kesehatan mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan di mana ia hidup.




Untuk dapat menyesuaikan diri dengan diri sendiri, kita harus lebih dulu mengenal diri kita dan menerimanya sebagaimana adanya, lalu bertidak sesuai dengan kemampuan dan kekurangan yang ada pada kita.
Disamping itu, kita juga harus mengenal, memahami dan meneliti orang lain dari segala segi secara objektif. Jangan kita melihat dan menilai orang lain secara subjektif, yaitu menurut perasaan dan ukuran kita ; tapi usahakanlah melihat orang dengan ukuran-ukuran orang itu sendiri. Kita harus mengenal keistimewaan orang disamping kekurangan atau kelemahan-kelemahannya.
Selanjutnya perlu pula diketahui lingkungan, termasuk kaidah-kaidah sosial, peraturan-peraturan, undang-undang, adat kebiasaan, ajaran agama yang dianut dan suasana pada umumnya. Dalam tindakan, pandangan dan apa saja yang terjadi, kita tidak boleh melupakan di mana kita berada, agar tindakan kita tidak bertentangan dengan peraturan dan kebiasaan yang berlaku, serta menyadari sepenuhnya akan kewajiban kita terhadap lingkungan itu.
Kalau kita perhatikan orang-orang dalam kehidupannya sehari-hari, akan bermacam-macamlah yang terlihat. Ada orang yang kelihatannya selalu gembira dan bahagia, walau apapun keadaan yang dihadapinya. Dia disenangi orang, tidak ada yang membenci atau tidak menyukainya, dan pekerjaannyapun selalu berjalan dengan lancer.
Sebaliknya ada pula orang yang sering mengeluh dan bersedih hati, tidak cocok dengan orang lain dalam pekerjaan, tidak bersemangat serta tidak dapat memikul tanggung jawab. Hidupnya dipenuhi kegelisahan, kecemasan dan ketidakpuasan, dan mudah diserang oleh penyakit-penyakit yang jarang dapat diobati. Mereka tidak pernah merasakan kebahagiaan.
Disamping itu ada pula yang orang yang dalam hidupnya suka menganggu, melanggar hak dan ketenangan orang lain, suka mengadu-domba, memfitnah, menyeleweng, menganiaya, menipu dan sebagainya.
Gejala-gejala yang menggelisahkan masyarakat itulah, yang mendorong para ahli Ilmu Jiwa untuk berusaha menyelidiki apa yang menyebabkan tingkah laku orang berbeda, kendatipun kondisinya sama. Juga apa sebabnya ada orang yang tidak mampu mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup ini. Usaha ini menumbuhkan satu cabang termuda dari Ilmu Jiwa, yaitu Kesehatan Mental (Mental Hygiene).
Kesehatan mental adalah pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagiaan diri dan orang lain ; serta terhindar dari gangguan-gangguan dan penyakit jiwa.









Mendorong orang memperkembangkan dan memanfaatkan segala potensi yang ada. Jamgan sampai ada bakat yang tidak bertumbuh dengan baik, atau yang digunakan dengan cara yang tidak membawa kepada kebahagiaan, yang mengganggu hak dan kepentingan orang lain. Bakat yang tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, akan membawa kepada kegelisahan dan pertentangan batin. Dalam pergaulan dengan orang atau keluarganya akan terlihat kaku dan mungkin sekali tidak akan mengindahkan orang, karena ia merasa menderita, sedih, marah kepada dirinya dan orang lain.
Mungkin pula orang mendapat kesempatan untuk mengembangkan bakat dan potensi yang ada padanya dengan baik, tapi kepandaian dan kecerdasannya itu digunakannya untuk menipu, mengambil hak orang lain, atau menyengsarakan orang dengan fitnahan yang dibuat-buatnya. Maka orang itupun termasuk orang yang kurang sehat.


Kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi, dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya.







Fungsi-fungsi jiwa seperti pikiran, perasaan, sikap jiwa, pandangan dan keyakinan hidup, harus dapat saling membantu dan bekerja sama satu sama lain, sehingga dapat dikatakan adanya keharmonisan, yang menjauhkan orang dari perasaan ragu dan bimbang, serta terhindar dari kegelisahan dan pertentangan batin (konflik).
Keharmonisan antara fungsi jiwa dan tindakan tegas itu dapat dicapai antara lain dengan keyakinan akan ajaran agama, keteguhan dalam mengindahkan norma-norma sosial, hukum, moral dan sebagainya.
Fungsi-fungsi jiwa dengan semua unsur-unsurnya, bertindak menyesuaikan orang dengan dirinya, dengan orang lain dan lingkungannya. Dalam menghadapi suasana yang selalu berobah, fungsi-fungsi jiwa akan bekerja sama secara harmonis dalam menyiapkan diri untuk menghadapi perubahan-perubahan tersebut. dengan demikian perubahan-perubahan itu tidak akan menyebabkan kegelisahan dan kegoncangan jiwa.
Tidak seorangpun yang tidak ingin menikmati ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup. Dan semua orang akan berusaha mencarinya, meskipun tidak semuanya dapat mencapai yang diingininya itu. Bermacam sebab dan rintangan yang mungkin terjadi, sehingga banyak orang yang mengalami kegelisahan, kecemasan dan ketidakpuasan.
Sesungguhnya ketenangan hidup, ketentraman jiea atau kebahagiaan batin, tidak banyak tergantung kepada faktor-faktor luar seperti keadaan sosial, ekonomi, politik, adat kebiasaan dan sebagainya ; akan tetapi lebih tergantung kepada cara dan sikap menghadapi faktor-faktor tersebut.
Diantara gangguan perasaan yang disebabkan oleh karena terganggunya kesehatan mental ialah: rasa cemas (gelisah), iri hati, sedih, merasa rendah diri, pemarah, ragu (bimbang) dan sebagainya. Macam-macam perasaan itu mungkin satu saja yang menonjol, mungkin pula dua atau lebih, bahkan mungkin semuanya terdapat pada satu orang.
Ganggunan jiwa (neurose) dan penyakit jiwa (psychose) adalah akibat dari tidak mampunya orang menghadapi kekurangan-kekurangannya dengan wajar, atau tidak sanggup ia menyesuaikan diri dengan situasi yang dihadapinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri adalah:


  1. Frustrasi (tekanan perasaan)


Frustasi ialah suatu proses yang menyebabkan orang merasa akan adanya hambatan terhadap terpenuhinya kebutuhan-kebutuhannya atau menyangka bahwa akan terjadi sesuatu hal yang menghalangi keinginannya.










  1. Konflik (pertentangan batin)


Konflik jiwa atau pertentangan batin, adalah terdapatnya dua macam golongan atau lebih, yang berlawanan atau bertentangan satu sama lain, dan tidak mungkin dipenuhi dalam waktu yang sama.




  1. Kecemasan (anxiety)


Kecemasan adalah manifestasi dari berbagai proses emosi yang bercampur baur, yang terjadi ketika orang sedang mengalami tekanan perasaan (frustasi) dan pertentangan batin (konflik).
Kecemasan itu mempunyai segi yang disadari seperti rasa takut, terkejut, tidak berdaya, rasa berdosa/bersalah, terancam dan sebagainya. Juga ada segi-segi yang ada diluar kesadaran dan tidak bisa menghindari perasaan yang tidak menyenagkan itu. Rasa cemas itu terdapat dalam semua gangguan dan penyakit jiwa, dan ada bermacam-macam pula.
Pertama, rasa cemas yang timbul akibat melihat dan mengetahui ada bahaya yang mengancam dirinya; Kedua, rasa cemas yang berupa penyakit dan terlihat dalam beberapa bentuk; Ketiga, cemas karena merasa berdosa atau bersalah, karena melakukan hal-hal yang berlawanan dengan keyakinan atau hati nurani.
Dengan ringkasan tersebut dapat dikatakan, bahwa cemas itu timbul karena orang tidak mampu menyesuaikan diri dengan dirinya, dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya.


Cara yang terbaik untuk menghilangkan ketegangan batin ialah dengan jalan menghilangkan sebab-sebabnya. Tetapi tidak semua orang sanggup mengatasinya dengan cara tersebut, dan mencari jalan lain yang kurang sehat yaitu berupa usaha-usaha yang tidak disadari. Cara-cara tersebut adalah:
  1. Pembelaan
Usaha yang dilakukan untuk mencari alasan-alasan yang masuk akal bagi tindakan yang sesungguhnya tidak masuk akal.


  1. Proyeksi
Proyeksi adalah menimpakkan sesuatuyang tersa dalam dirinya kepada orang lain, terutama tindakan, fikiran atau dorongan-dorongan yang tidak masuk akal sehingga dapat diterima dan kelihatannya masuk akal.


  1. Identifikasi
Identifikasi adalah kebalikan dari proyeksi, dimana orang turut merasakan sebagian dari tindakan atau sukses yang dicapai oleh orang lain.


  1. Hilang Hubungan (disasosiasi)
Seharusnya perbuatan, fikiran dan perasaan orang berhubungan satu sama lain.


  1. Represi
Represi adalah tekanan untuk melupakan hal-hal, dan keinginan-keinginan yang tidak disetujui oleh hati nuraninya.


  1. Substitusi
Substitusi adalah cara pembelaan diri yang paling baik diantara cara-cara yang tidak disadari dalam menghadapi kesukaran. Dalam substitusi orang melakukan sesuatu, karena tujuan-tujuan yang baik, yang berbeda sama sekali dari tujuan asli yang mudah dapat diterima, dan berusaha mencapai sukses dalam hal itu.
Substitusi itu ada dua macam, yaitu: pertama, sublimasi, pengungkapan dari dorongan yang tidak dapat diterima dalam masyarakat dengan cara yang dapat diterima; kedua, kompensasi usaha untuk mencapai sukses dalam suatu lapangan, setelah gagal dalam lapangan lain.
G. KEPRIBADIAN DAN PERILAKU KESEHATAN




TEORI PERKEMBANGAN MANUSIA


  1. Teori Nativisme


Teori ini menyatakan bahwa perkembangan manusia itu akan ditentukan oleh faktor-faktor nativius, yaitu faktor-faktor keturunan yang merupakan faktor-faktor dibawa oleh individu pada waktu dilahirkan. Menurut teori ini sewaktu individu dilahirkan telah membawa sifat-sifat inilah yang akan menentukan keadaan individu yang bersangkutan, sedangkan faktor lain yaitu lingkungan, termasuk di dalamnya pendidikan dapat dikatakan tidak berpengaruh terhadap perkembangan individu itu. Teori inin dikemukakan oleh Schopenhouer (Bigot dkk, 1950).




  1. Teori Empirisme


Teori ini menyatakan bahwa perkembangan seseorang individu akan ditentukan oleh empirisnya atau pengalaman-pengalamannya yang diperoleh selama perkembangan individu itu juga pendidikan yang diterima oleh individu yang bersangkutan. Menurut teori ini individu yang dilahirkan sebagai kertas atau meja yang putih bersih yang belum ada tulisan- tulisannya. Akan menjadi apakah individu itu kemudian, tergantung kepada apa yang akan ditulisakandi atasnya.
Karena itu peranan para pendidik dalam hal ini sangat besar, pendidikanlah yang akan menentukan keadaan individu itu di kemudian hari. Karena itu aliran atau teori ini dalam lapangan pendidikan menimbulkan pandangan yang optimistis yang memandang bahwa pendidikan merupakan usaha yang cukup mampu untuk membantu pribadi individu.
Teori empiris ini dikemukakan oleh John Lokke, juga sering dikenal dengan teori tabularsa, yang memandang keturunan atau pembawaan tidak mempunyai peranan.




  1. Teori konvergenst


Teori ini merupakan teori gabungan (konvergensi) dari kedua teori tersebut diatas, yaitu suatu teori yang dikemukakan oleh Wiliam Stern, baik pembawaan maupun pengalaman atau lingkungan mempunyai peranan yang penting dalam perkembangan individu. Perkembangan individu ditentukan oleh faktor yang dibawa sejak lahir (faktor endogen) maupun faktor lingkungan (termasuk pengalaman dan pendidikan) yang merupakan faktor eksogen
Teori Freud mengenai kepribadian dapat diikhtisar dalam rangka struktur, dinamika dan perkembangan kepribadian:


  1. Struktur kepribadian
Menurut Freud kepribadian terdiri atas tiga sistem atau aspek ,yaitu:
  1. Das Es (the id), yaitu aspek biologis,
  2. Das Ich (the ego), yaitu aspek psikologis,
  3. Das Ueber Ich (the super ego) yaitu aspek sosiologis.


Kendatipun ketiga aspek itu masing-masing mempunyai fungsi,sifat,komponen, prinsip kerja, dinamika sendiri-sendiri, namun ketiganya berhubungan dengan rapatnya sehingga sukar (tidak mungkin) untuk memisah-misahkan pengaruhnya terhadap tingkah laku namun tingkah laku selalu merupakan hasil sama dari ketiga aspek itu.
  1. Pola perilaku
Penelitian-penelitian yang terbaru banyak dilakukan untuk meneliti factor-faktor kepribadian dan/atau pola-pola perilaku sebagai factor resiko untuk penyakit jantung koroner dan kardiovaskuler.


  1. Perilaku “Tipe A”
Tipe A pertama kali digambarkan secara jelas dan diukur oleh Friedman dan Roseman di tahun 1959 (Jenkins, 1988; Taylor, 1991 dll). Aslinya hal ini digambarkan sebagai gaya perilaku dan emosi.
Kebanyakan para penulis setuju adanya tiga ciri-ciri utama tipe A:
  1. Orientasi persaingan prestasi; ambisius, kritis terhadap diri sendiri.
  2. Urgensi waktu; berjuang melawan waktu, tidak sabaran, melakukan pekerjaan yang berbeda-bedadalam waktu yang sama.
  3. Permusuhan; mudah marah, kadang-kadang agresif.
  1. Perilaku “Tipe B”
Sebaliknya, tipe B meliputi orang-orang yang mempunyai gaya perilaku yang berlawanan, rileks, tidak terburu-buru, sedikit mudah terpancing untuk marah, berbicara dan bersikap dengan lebih tenang, dan lebih terbuka untuk memperluas pengalaman hidup.


  1. Kepribadian ketabahan “Hardiness”
Tipe kepribadian atau pola perilaku lain yang sering dibicarakan adalah “ketabahan” (hardiness atau hardy personality), sebuah gagasan konsep dari kobasa. Konseptualisasinya tentang hardiness sebagai tipe kepribadian yang penting sekali pada perlawanan terhadap stress, didapat dari teori eksistenikal kepribadian (Gentry& Kobasa, 1984)






  1. Optimisme dan persaan pertalian.
Untuk melihat kemampuannya dalam ramalan penyembuhan pembedaan. Keduanya ditemukan sangat mampu meramalkan perbaikan dalam aspek-aspek positif dari penyembuhan setelah mengontrol tingkat pembedahan.




KESEHATAN DAN KESAKITAN

Pada tahun 1947, “World Health Organization” mencoba untuk menggambarkan kesehatan secara luas tidak hanya meliputi (ketidakadanya) aspek medis tetapi juga aspek mental dan sosial. Kesehatan diartikan sebagai:
“….keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental (rohani) dan sosial, dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan…”


Pengertian yang komprehensif ini, walaupun masih samar-samar, tampaknya diterima secara umum dan mengarahkan penelitian-penelitian, intervensi dan pengembangan system perawatan kesehatan.
Penyakit (disease) dan kesakitan (illness), meskipun sangat berkaitan satu dengan yang lainnya, namun mencerminkan suatu perbedaan yang fundamental dan konsepsional tentang periode sakit. Menurut Cassell “…kesakitan adalah apa yang dirasakan pasien saat dia pergi ke dokter, sedang penyakit adalah apa yang didapatnya sepulang dari dokter…” (Helman, 1990). Jadi penyakit adalah sesuatu yang dimiliki suatu organ, sedang “illness” adalah sesuatu yang dimiliki seseorang.


Gochman, (1988) mendefinisikan “perilaku kesehatan”, tidak hanya meliputi tindakan yang dapat secara langsung diamati dan jelas tetapi juga kejadian mental dan keadaan perasaan yang diteliti dan diukur secara tidak langsung.
Status kesehatan adalah keadaan kesehatan pada waktu tertentu. Karena itu status kesehatan tidak sama dengan perilaku kesehatan. Bagaimanapun, menurut Cocbman (1988), persepsi seseorang terhadap status atau persepsi peningkatan, kesembuhan atau perubahan lain pada status kesehatan adalah perilaku kesehatan.




NORMAL DAN ABNORMAL


Karakteristik perilaku normal dapat diukur:
  1. Persepsi realita yang efisien.
Individu normal cukup realistik dalam menilai reaksi dan kemampuannya dan dalam menginterprestasikan apa yang terjadi di dunia sekitarnya.


  1. Mengenali diri sendiri.
Orang yang dapat melakukan penyesuaian balik memiliki suatu kesadaran akan motif dan perasaannya sendiri.


  1. Kemampuan untuk mengendalikan perilaku secara sadar.
Individu normal merasa cukup percaya tentang kemampuan dirinya untuk mengendalikan perilaku mereka sendiri.


  1. Harga diri dan penerimaan.
Orang yang mampu menyesuaikan diri secara baik maupun menilai harga dirinya sendiri dan merasa diterima oleh orang di sekitarnya.


  1. Kemampuan untuk membentuk ikatan kasih.
Individu normal mampu membentuk hubungan yang erat dan memuaskan dengan orang lain.
  1. Produktivitas.
Orang yang mampu menyesuaikan diri dengan baik, mampu menyalurkan kemampuan mereka ke aktivitas produktif.


Perilaku abnormal dapat didefinisikan berikut:
  1. Penyimpangan dari norma statistik.
Kata abnormal berarti “menyimpang dan normal”. Banyak karakteristik, seperti tinggi badan, berat badan, kecerdasan, mencakup suatu rentang nilai jika diukur pada suatu populasi. Salah satu definisi abnormalitas didasarkan pada frekuensi statistik: perilaku abnormal adalah yang secara statistik jarang atau menyimpang dari normal. Tetapi menurut definisi ini, orang yang sangat cerdas atau sangat gembira akan diklasifikasikan sebagai abnormal.


  1. Penyimpangan dari norma sosial.
Perilaku yang dianggap normal oleh suatu masyarakat mungkin dianggap abnormal oleh masyarakat lain.


  1. Perilaku maladaptif.
Perilaku maladaptif merupakan pemahaman perilaku abnormal yang bersifat konseptual, yang memasukkan setiap perilaku yang memiliki konsekuensi yang tidak diharapkan.


  1. Distresi pribadi.
Abnormalitas dalam pengertian perasaan distress subjektif individual ketimbang perilaku individual. Sebagian besar orang yang diagnosis menderita penyakit mental merasakan penderitaan batin yang berat.








GANGGUAN MENTAL


Gangguan mental dapat dikategorikan berikut:
  1. Gangguan yang biasanya didiagnosis pertama kali pada masa bayi, masa anak-anak, atau masa remaja.
Termasuk retardasi mental, gangguan belajar, gangguan keterampilan motorik, gangguan komunikasi, gangguan perkembangan pervasive, gangguan defisit-atensi dan perilaku mengacau, gangguan pemberian makanan dan gangguan makan (misalnya, pika) dan penyimpangan lain dari perkembagan normal.


    1. Delirium, demensia, dan gangguan amnestik dan kognitif lain.
Gangguan di mana fungsi otak diketahui terganggu, baik secara permanen atau transien; mungkin akibat proses penuaan, trauma kepala, penyakit degeneratit pada sistem saraf (contohnya, HIV, sifilis, atau penyakit Alzheimer), atau ingesti toksik (contohnya keracunan timbale atau obat).


    1. Gangguan berhubungan dengan zat
Termasuk pemakaian alcohol yang berlebihan, barbiturat, amphetamine, cocaine, kafein, dan obat lain yang mengubah perilaku. Marijuana dan tembakau juga dimasukkan dalam kategori ini, yang masih kontroversial.


    1. Skizofrenia dan gangguan psikotik lain
Sekelompok gangguan yang ditandai oleh hilangnya kontak dengan realita, gangguan jelas proses berpikir dan persepsi, dan perilaku yang aneh. Pada suatu fase faham dan halusinasi hamper selalu terjadi. Gangguan delusional masuk dalam kategori ini.






    1. Gangguan mood
Gangguan mood normal; orang mungkin sangat terdepresi, sangat gembira secara abnormal, atau berselang-seling antara periode elasi dan depresi. Termasuknya di dalamnya gangguan bipolar.


    1. Gangguan kecemasan
Mencakup gangguan di mana kecemasan merupakan gejala utama (gangguan kecemasan umum) atau kecemasan dirasakan kecuali individu menghindari situasi yang ditakuti (fobia), atau mencoba menahan diri dari melakukan ritual tertentu atau memikirkan pikiran persisten (gangguan obsesif komplusif). Juga termasuk gangguan stress pascatraumatik.


    1. Gangguan somatoform
Gejala gangguan adalah fisik, tetapi tidak dapat ditemukan penyebab organic dan factor psikologis tampaknya berperan besar. Termasuk di sini adalah gangguan somatisasi, gangguan konversi (misalnya, wanita yang benci merawat ibunya yang telah renta secara tiba-tiba mengalami kelumpuhan tangan) dan hipokondriasis (preokupasi berlebihan dengan kesehatan dan merasa takut berlebihan akan penyakit walaupun tidak ada alasan untuk ketakutan itu).


    1. Gangguan Disosiatif
Perubahan sementara fungsi kesadaran, ingatan, atau identitas karena masalah emosional. Termasukk adalah amnesia disosiatif (individu tidak dapat mengingat ssegala sesuatu pengalaman hidupnya setelah suatu pengalaman traumatik) dan gangguan kepribadian (dua atau lebih system kepribadian yang terpisah ada dalam individu yang sama).


    1. Gangguan Seksual dan identitas jenis
Mencakup masalah gangguan gairah seksual, gangguan perangsangan seksual, gangguan orgasmik, gangguan nyeri seksual, parafilia (ekshibisionisme, fetishisme, pedofilia, masokisme seksual), gangguan identitas jenis (misalnya, transeksualisme).
    1. Gangguan makan
Mencakup anoreksia nervosa.


    1. Gangguan tidur
Mencakup insomnia kronis, hipersomnia, apnea tidur, tidur berjalan, dan narkolepsi.


    1. Gangguan pengendalian implus
Mencakup gangguan eksplosif intermiten, kleptomania (mencuri komplusif benda-benda yang tidak dibutuhkan untuk pemakaian prihadi atau nilai ekanamisnya), herjudi patologis dan piromania (menimbulkan kehakaran untuk kesenangan semata atau menghilangkan ketegangan.


    1. Gangguan kepribadian
Pola perilaku maladaptive yang berlangsung lama yang merupakan cara yang tidak dewasa dan tidak tepat untuk menghadapi stress atau memecahkan masalah. Gangguan kepribadian antisocial dan gangguan kepribadian narsistik adalah dua contohnya.


    1. Gangguan buatan
Gejala fisik atau psikologis yang ditimbulkan secara buatan. Berbeda dari melingering (berpura-pura) di mana tidak ada tujuan yang jelas, seperti ketidakmampuan membayar tagihan atau menghindari wajib militer. Bentuk yang paling banyak diteliti dinamakan sindrom Munchausen: kesenangan individu akan presantasi gejala fisik buata menyebabkan individu itu sering dirawat di rumah sakit.


    1. Kondisi lain yang mungkin menjadi pusat perhatian Minis
Kategori ini mencakup banyak masalah yang menyebabkan orang mencari bantuan, seperti gangguan pergerakan akibat medikasi, masalah relasional (masalah perkawinan, masalah orang tua anak), penyiksaan fisik dan seksual, penelantaran, berpura-pura (malingering), perilaku antisocial, atau masalah pekerjaan.
Anda mungkin pernah mendengar istilah “neurosis” dan “psikosis”, dahulu istilah tersebut dinyatakan sebagai kategori diagnostik utama. Neurosis mencakup sekelompok gangguan yang ditandai oleh kecemasan, ketidakbahagiaan pribadi, dan perilaku maladatif yang jarang cukup serius sehingga memerlukan perawatan di rumah sakit. Individu biasanya masih dapat berfungsi di masyarakat, walaupun tidak dalam kapasitas penuhnya. Psikosis mencakup gangguan mental yang lebih serius. Perilaku dan proses berpikir individu sangat terganggu sehingga ia tidak mengenal atau terlepas dari realita, tidak dapat mengatasi tuntutan kehidupan sehari-hari, dan biasanya harus dirawat di rumah sakit.


Penelitian menemukan bahwa gangguan mental lebih sering terjadi pada orang yang berusia di bawah 45 tahun dan lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Tetapi, pria dua kali lebih sering dibandingkan wanita untuk melakukan penyalahgunaan alkohol. Gangguan kepribadian antisocial empat kali lebih banyak wanita yang menderita gangguan mood dan kecemasan.
Gangguan dapat dipahami atau dijelaskan dari banyak cara: penyebab genetik, kimiawi, atau neurologis; konflik bawah sadar, perilaku tidak tepat yang dipelajari, dan gangguan kognisi.




SEHAT MENTAL


Menurut Karl Menninger, sehat mental adalah penyesuaian manusia terhadap lingkungannya dan orang-orang lain dengan keefektifan dan kebahagiaan yang optimal. Dalam mental yang sehat terdapat kemampuan untuk memelihara intelegensi yang siap digunakan. Perilaku yang dipertimbangkan secara sosial, dan disposisi yang bahagia.














Ada 6 sifat orang yang sehat mental (Coleman dan Broen):
  1. Sikap terhadap diri sendiri
Yang positif, menekankan pada penerimaan diri, identitas yang adekuat, penghargaan yang realistik terhadap kelebihan dan kekurangan orang lain.


  1. Persepsi atau realitas
Yaitu suatu realistik atas diri sendiri dan dunia, orang serta benda yang nyata ada di lingkungan.


  1. Kelemahan
Yaitu keutuhan dari kepribadian bebas dan ketidakmampuan menghadapi konflik dalam diri dan toleransi yang baik terhadap stress.


  1. Kompetensi
Adanya perkembangan kompetensi baik fisik, intelektual, emosional dan social untuk menanggulangi masalah kehidupan.


  1. Otonomi
Ialah keyakinan diri, rasa tanggung jawab dan pengaturan diri yang adekuat, bersama-sama dengan kemandirian yang memadai menyangkut pengaruh social.


  1. Pertumbuhan/aktualisasi diri
Menekankan pada kecenderungan terhadap kematangan yang meningkat dan kepuasan sebagai pribadi.


Sehat mental Killander yaitu orang-orang yang memperlihatkan kematangan emosinal, kemampuan menerima realita, kesenangan hidup bersama orang lain, dan memiliki filasafat/pegangan hidup.








GANGGUAN STRESS


Kita semua kadang-kadang mengalami stress. Siswa mungkin mengalami stress saat hubungannya dengan teman sekolahnya tidak berjalan baik, saat mereka harus melaporkan pendidikannya, atau saat ujian akhir akan tiba. Kita kadang-kadang mengalami peristiwa stress berat, seperti kematian orang tua atau bencana alam. Pemaparan dengan stress dapat menyebabkan emosi yang menyakitkan, sebagai contohnya kecemasan atau depresi. Tetapi ini juga dapat menyebabkan penyakit fisik, baik ringan maupun parah.
Tetapi reaksi seseorang terhadap peristiwa stress sangat berbeda: sebagian orang yang menghadapi peristiwa stress mengalami masalah psikologis atau fisik serius, sedangkan orang lain yang berhadapan dengan peristiwa stress yang sama tidak mengalami masalah apa-apa dan bahkan mungkin merasa peristiwa itu sebagai sesuatu yang menantang dan menarik.
Penyebab stress berbeda-beda dari satu orang ke orang lainnya. Yang merasa berat bagi seseorang mungkin terasa menantang dan menyenangkan bagi orang lain.
Tidak terhitung banyaknya peristiwa yang dapat menyebabkan stress. Sebagian darinya adalah perubahan besar yang mempengaruhi banyak orang seperti perang, kecelakaan nuklir, dan gempa bumi. Peristiwa lain adalah perubahan besar dalam kehidupan seseorang.
Terakhir, sumber stress dapat berbeda di dalam individu dalam bentuk motif atau keinginan yang bertentangan. Peristiwa yang di rasakan sebagai stress biasanya masuk ke dalam salah satu atau lebih kategori berikut: peristiwa traumatik di luar rentang pengalaman manusia yang lazim, peristiwa yang tidak dapat dikendalikan, peristiwa yang menantang batas kemampuan dan konsep diri kita, atau konflik internal.










PERISTIWA TRAUMATIK


Sumber stres yang paling jelas adalah peristiwa traumatik situasi bahaya ekstrim yang berada di luar rentang pengalaman manusia yang lazim. Peristiwa tersebut antara lain bencana alam, seperti gempa bumi dan banjir; bencana buatan manusia, seperti perang dan kecelakaan nuklir; kecelakaan yang mengerrikan, seperti tabrakan mobil atau pesawat terbang; dan penyerangan fisik seperti pemerkosaan atau upaya pembunuhan.
Walaupuun reaksi orang terhadap peristiwa traumatik sangat berbeda-beda, terdapat pola perilaku yang umum sindroma bencana (disaster syndrome).




SKALA PERISTIWA KEHIDUPAN


Peristiwa Kehidupan
Nilai
Kematian suami/ istri
Perceraian
Hidup terpisah dalam perkawinan
Hukuman penjara
Kematian anggota keluarga dekat
Luka atau sakit (diri sendiri)
Perkawinan
Dipecat dari perusahaan
Rukun kembali antara suami istri
Pensiun
Perubahan kesehatan anggota keluarga
Kehamilan
Masalah seksual
Mendapat anggota keluarga baru
Penyesuaian kembali dalam bisnis
Perubahan situasi keuangan
Kematian teman dekat
Perubahan bidang pekerjaan
Masalah dengan keluarga suami/ istri
Prestasi hebat seseorang
Istri mulai atau berhenti bekerja
Mulai atau mengakhiri sekolah
Perubahan kondisi kehidupan
Mengubah kebiasaan pribadi
Masalah dengan boss
Pindah rumah
Pindah sekolah
Pindah rekreasi
Perubahan kegiatan keagamaan
Perubahan kegiatan sosial
Perubahan kebiasaan tidur
Perubahan kebiasaan makan
Iiburan
Hari besar keagamaan
Pelanggaran hukuman ringan
100
73
65
63
63
53
50
47
45
45
44
40
39
39
39
38
37
36
30
29
29
28
26
26
25
24
23
20
20
19
19
18
16
15
13
12
11



Melihat tabel di atas ternyata persoalan kesehatan yaitu sakit pada diri sendiri menempati posisi yang cukup tinggi yang dapat mengakibatkan stres pada seseorang. Untuk itu diperlukan kondisi psikologis yang baik agar dapat menghadapi kondisi tersebut. Sebagian besar dari kita pernah mengalami kecemasan, depresi, kemarahan yang tidak masuk akal, atau merasa tidak mampu menghadapi kerumitan-kerumitan kehidupan. Mencoba menjalani kehidupan yang memuaskan dan bermakna tidaklah mudah dalam era perubahan sosial dan teknologi yang cepat.




GANGGUAN KECEMASAN


Sebagian besar dri kita merasa cemas dan tegang jika menghadapi situasi yang mengancam atau setres. Perasaan tersebut adalah reaksi normal terhadap setres. Kecemasan dianggap abnormal hanya jika terjadi dalam situasi yang sebagian besar orang dapat menanganinya tanpa kesulitan berarti. Gangguan kecemasan adalah sekelompok gangguan dimana kecemasan merupakan gejala utama (gangguan kecemasan umum dan gangguan panik) atau dialami jika seseorang berupaya mengendalikan perilaku maladaptif tertentu (gangguan jobik dan gangguan obsesif-kompulsif). Kecemasan menjadi merusak jika orang mengalaminya dari perristiwa yang oleh sebagian besar tidak diangap setres.


Seseorang yang menderita gangguan kecemasan umum hidup tiap hari, dalam ketegangan yang tinggal secara samar-samar merrasa takut atu cemas pada hampir sebagian besar waktunya dan cenderung bereaksi secara berlebihan terhadap setres yang ringan pun. Selama serangan panik yang parah, orang merasa takut bahwa dirinya akan mati.
Orang yang mengalami kecemasan umum dengn gangguan panik mungkin tidak mengetahui deengan jelas mengapa mereka merasa ketakutan. Jenis kecemasan ini kadng-kadang dinamakan “free-floating” (melayang bebas) karena tidak dipicu oleh peristiwa tertentu; namun terjadi dalam berbagai situasi.








FOBIA


Berbeda dengan ketakutan samar-samar yang dilami oleh penderita gangguan kecemasan umum, ketakutan ada gangguan fobik lebih spesifik. Orang yang berespons dengan ketakutan yang kuat pada stimuus atau situasi tertentu yang oleh sebagian besar orang tidak dianggap berbahaya dikatakan menderita fobia. Individu biasanya menyadari bahwa rasa takutnya itu tidak rasional tetapi masih merasa cemas (mulai dari kekuatiran yang kuat sampai panik) yang dapat dihilangkan hanya dengan menghindari objek atau situasi yang ditakutinya.




GANGGUAN OBSESIF-KOMPULSIF


Seorang pria bangkit dari tempat tidurnya beberapa kali tiap malam dan memeriksa semua pintu untuk memastikan bahwa pintu telah terkunci. Setelah kembali ke tempat tidur ia terganggu oleh pikiran bahwa ia mungkin telah lupamenutup satu pintu. Pria lain mandi tiga atau empat kali berturut-turut, menggosok tubuhnya dengan desinfektan khusus tiap kali, karena merasa takut dirinya terkontaminasi oleh kuman. Seorang wanita memiliki pikiran berulang untuk menikam bayinya dan merasakan serangan panic saat ia telah memegang gunting atau pisau.


Semua orang yang memiliki gejala gangguan obsesif-kompulsif, kehidupan mereka didominasi oleh tindakan atau pikiran yang repetitif (berulang). Obsesi adalah instrusi persisten pikiran, bayangan , atau impula yang tidak diundang yang menimbulkan kecemasan. Kompulsif adalah dorongan yang tidak dapat ditahan untuk melakukan tindakan atau ritual tertentu yang menurunkan kecemasan. Pikiran obsesif seringkali disertai dengan tindakan kompulsif, contohnya pikiran akan tertular kuman menyebabkan tindakan kompulsif mencuci perabotan makan berkali-kali sebelum menggunakannya.
Secara umum dibalik semua perilaku berulang itu adalah keraguan. Individu obsesif kompulsif tidak dapat mempercayai indra atau penalarannya, mereka tidak dapat mempercayai matanya yang tidak melihat kotoran atau tidak dapat percaya bahwa pintu telah terkunci.












































H. INTERVIEW, PSIKOTHERAPI, DAN PSIKOANALISA




Gejala-gejala gangguan psikis itu dapat dipahami dengan melihat atau mempelajari :
  1. Predisposisi fisik dan psikis beserta sejarah hidup pasien;
  2. Situasi keluarga dalam mana pasien dibesarkan;
  3. Lingkungan social yang memberikan banyak tekanan dan ketegangan batin, khususnya lingkungan social yang aktual.


Pada penyakit-penyakit pertukaran zat dan penyakit yang merusak lainnya, semasa fase awalnya banyak memunculkan perubahan karakter serta kepribadian, lalu disusul dengan kompleks gejala amnetis yang progresif sifatnya. Fungsi-fungsi cerebral pada orang-orang lanjut usia seringkali terganggu oleh: sirkulasi zat-zat yang buruk, proses mongering, penyakit-penyakit ginjal, dll. Maka dapat dinyatakan bahwa penyakit-penyakit yang mengakibatkan kerusakan pada system syaraf itu menimbulkan gejala-gejala sebagai berikut: perubahan karakter, anomali-anomali/kelainan tingkah laku, dan proses-proses dementia. Selanjutnya, perubahan kepribadian dan karakter itu biasanya disertai dengan gejala-gejala amnetis dan dementia paralytika.


Untuk menentukan diagnosa mengenai jenis suatu gangguan psikis, diperlukan adanya percakapan dengan pasien yakni melalui “hard interview” dan “soft interview”.
Dengan “hard interview” (interview keras) orang berusaha melucuti kedok, memergoki, menangkap basah, dan memaksa agar pasien mau membuka diri atau mau melepaskan satu pendirian. Dengan metode interview keras ini orang mencoba menunjukkan kekeliruan-kekeliruan dan ketidakcocokkan atau inkonsekuensi daripada perasaan fikiran perbuatan si pasien. Dan berusaha menjelaskan, bahwa perasaan-perasaan dan keyakinan-keyakinan yang dianut pasien itu keliru, lagipula tidak sesuai dengan realitas yang ada.
Sehubungan dengan “hard interview” ini, jika pasien tidak mampu membela diri, maka dia merasa kalah dan malu, merasa disudutkan, sebab merasa kehilangan muka. Sehingga pasien bisa menjadi aphatis dan semakin membeku karenanya, dia tidak mau menjawab dan justru cenderung menutup diri.


Praktek interview keras semacam ini sangat mirip dengan penggojlokan sewaktu perploncoan mahasiswa; atau mirip sekali dengan pemeriksaan polisi dan pemeriksaan di siding pengadilan. Kadang-kadang mirip juga dengan siding guru besar yang tengah menguji mahasiswanya. Jelaslah, bahwa interview keras dengan segala liku-liku dan teknik manipulatif itu kurang tepat untuk dipraktekkan oleh seorang psikolog, dokter dan therapeut terhadap client dan pasiennya.
Melalui interview lembut, therapeutik berusaha menenangkan serta menyenangkan pasien/klient, agar dia merasa enak dan “aman terlindung”. Orang berusaha memahami segala perasaan client dengan cara yang lebih elegan. Yaitu dengan lembut dan hati-hati, therapeutik berusaha mengorek segala hal-ikhwal yang bersangkutan dengan penyakitnya, yang sifatnya pribadi. Dengan begitu, informasinya akan mejadi lebih bisa dipercaya. Orang yang merasa disudutkan, biasanya akan bersitegang dengan alasan-alasan yang palsu; atau akan bersikeras mempertahankan pendirian pendiriannya yang jelas fiktif sifatnya (berbohong). Semakin keras sifat interviewnya, biasanya semakin tegar-keras hati si pasien dan semakin besar pula kebohongan serta kepura-puraannya.
Jika seorang therapeutik, dokter dan psikolog ingin berdialog dengan seorang client, maka yang dikehendaki ialah ; informasi diri client yang bisa dipercaya. Untuk menggali informasi sedemikian ini perlu kiranya agar client merasa “dipahami/dimengerti” oleh therapeutik, dokter atau psikolog. Sebab, pemahaman segala keluhan dan kepedihan-kebingungan perasaan client itu menjadi informasi penting bagi therapeut; sekaligus memberikan banyak pertolongan dan kelegaan kepada client. Hendaklah kita ingat, bahwa sikap therapeut yang simpatik, sabar tenang menyenangkan dan mau mengerti kesulitan client itu bisa memperingan perasaan-perasaan bersalah-berdosa pasien, dan membebaskan pasien dari rasa hampa bingung dan putus asa. Dialog dan interview yang baik itu jelas merupakan terapi yang manjur. Karena itu teknik ”mendengar dengan baik” dan teknik “membuka diri sendiri”, agar mampu memahami dengan baik perasaan serta motivasi-motivasi yang menggerakkan seorang pasien untuk “bertingkah laku”, merupakan teknik komunikasi yang sangat utama. Teknik sedemikian ini bisa disebut sebagai “attitude interview” atau interview sikap.


Intervew diagnostik itu biasanya menghasilkan effek therapeutis yang menakjubkan. Sebab, menduga bahwa ada orang lain yang mau bersimpati pada dirinya, dan bersedia memahahami segala kesulitan batinnya itu merupakan bantuan-tumpunan yang maa besar bagi client atau pasien; sehingga dia merasa lebih kuat mendukung beban penderitaannya. Memperlihatkan simpati dan ‘ikut hidup/ikut merasakan’ itu sekaligus bisa mengkompensir segenap dendam dan sakit hati si pasien. Maka, pemahiran teknik interview ini akan bisa tercapai dengan jalan : melakukan banyak training dalam psikotherapi. Psikotherapi ialah: metode penyembuhan dri gangguan-gangguan penyakit-penyakit jiwa.


Pendekatan multi-kausal terhadap macam-macam gangguan psikis itu membawa beberapa konsekuensi pada therapinya. Yaitu, pada setiap pasien itu harus bisa diajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
  1. Apakah ada gangguan-gangguan fisik tertentu yang bisa di obati secara medikamenteus (dengan obat-obat tertentu)?
  2. Adakah kesulitan-kesulitan batin dan gangguan psikisnya bisa didekati dengan psikotherapi?
  3. Apakah kondisi-kondisi sosial yang tidak menguntungkan, kemudian bisa berubah, diperbaiki atau ditingkatkan; sehingga bisa memperlancr kesembuhan, dan meningkatkan kesehatan psikis si pasien?


Jelaslah kini, baik faktor fisik, maupun psikis dan sosial, semuanya harus diperhatikan dengan begitu ada pandangan yang psiko-dinamis, sehingga diperoleh wawasan mengenai relasi dari perkembangan psikis dan gangguan psikisnya.
Apabila therapeutik bisa mendorong pasiennya untuk mampu belajar idup dengan segala permasalahan dan kesulitannya, bisa menerima segenap kesulitan, dan mampu menerima keadaan diri sendiri (ada self-acceptancy yang sehat), maka aktivitas tersebut benar-benar merupakan satu prestasi.


Selanjutnya, kita sebutkan: seseorang itu psikis sehat apabila dia mampu bekerja, mampu mencinta dan dicinta, punya akar yang kokoh pada realitas konkrit, dan ada harmoni antara kehidupan batiniahnya (mikrokosmos) dengan dunia luar Tuhan-nya (makrokosmos).


Psikoanalisa dan psikotherapi itu bisa berhasil atau bisa gagal, bergantung pada keahiran teknis dan kemahiran sosial pelakunya.


Jiwa dan kehidupan ini memang merupakan misteri yang pelik, namun justru juga sangat menarik untuk dipelajari. Juga kesulitan-kesulitan hidup yang bisa mengakibatkan gangguan-gangguan psikis itu sangat bervariasi. Oleh sebab itu, pemahamannya membutuhkan informasi dan titik pandangan yang berbeda-beda, yang bisa saling melengkapi. Yaitu titik-pandangan medis yang ditunjang dengan titik-pandangan psikologis, ekonomis, politis dan sosial serta edukatif. Dan tidak hanya berupa titik-pandngan yang genetis atau medis saja.


Beberapa sarana yang bisa dipakai dalam psikotherapi ialah: sugesti, hipnosa dan persuasi. Sugesti itu adalah pengaruh yang berlangsung terhadp kehidupan psikis dan perbuatan kita, dengan mana perasaan-fikiran-kemauan kita sedikit atau banyak dibatasi karenanya, sugesti ini merupakan salah satu elemen dalam setiap therapi. Hanya saja, dalam therapi pemberian wawasan, sugesti itu harus dikurangi dan menjadi sesedikit mungkin. Sugesti bisa berupa percakapan; akan tetapi dapat juga diwujudkan dalam obat-obatan dan macam-macam pesawat listrik yang aneh-aneh; misalnya yang bisa memunculkan percikan-percikan api biru, dan pelbagai alat massage/pijit.


Kadang kata orang juga menggunakan metode hipnosa untuk mendukung psikotherapi. Hipnosa ialah semacam keadaan tidur disebabkan oleh kekuatan batin hipnoteseur (orang yang mampu menghipnotisir orang lain). Dalam keadaan ini tidur dan menurutnya kesadaran, sugesti-sugesti tertentu diberikan dalam hipnosa tadi. Hipnosa ini pada umumnya bisa berhasil pada therapi simptomatis. Dan hilang atau sembuhnya simptom-simptom tertentu itu bisa merubah sama sekali kehidupan seseorang. Selama hipnosa tadi, hilangnya simptom penyakit misalnya gatal-gatal yang hebat disugestikan kepada pasien. Biasanya hipnosa sedemikian ini bisa memberikan hasil yang baik.


Selanjutnya metode persuasi (membuju; mengajak) sering juga ditambahkan pada psikhoterapi dan pengobatan, sebagai satu metode-implisit. Persuasi ini diterapakan untuk memberikan topangan kekuatan kepada pasien dalam kesulitannya. Juga memacu dan mengajak pasien agar dia tabah bertahan. Senyatanyalah apabila ada orang lain yang bersimpati dan ikit merasakan kecemasan serta penderitaan kita, maka segala kecemsn, kepedihan dan penderitaan itu akan lebih tertanggungkan oleh kita.


Dapat ditaambah pula di sini ialah: therapi tumpuan. Yang dimaksud dengan therapi tumpuan ialah sikap yang ikut merasakan, ikut hidup dengan penderitaan pasien, sikap menghibur dan memberanikan, dan usaha untuk memperkuat rasa diri pasien. Therapi tumpuan ini, biasanya diterapkan terhadap pasien-pasien yang mengidap penyakit yang tidak mungkin tersembuhkan lagi dan banyak menderita secara jasmaniah; misalnya penderita penyakit kanker. Therapi tumpuan ini akan sangat memperingankan penderitaan pasien, apabila therapeut atau dokter sering mengunjungi pasien, dan tidak meninggalkan pasien sendirian pada saat-saat kritis.


Salah satunya kelemahan dari psikoanalisa ialah: (1) penyakitan waktu yang lama, dan (2) banyaknya persidangan yang harus dilakukan oleh therapeut dengan pasien. Maka sebagai pengganti ataupun pelengkap dari metode psikoanalisa kelompok, dengan terapi kelopok psiko-analitis.


Usaha dan tingkah laku manusia itu dimunculkan oleh: (1) dorongan aktif dari dalam, dan (2) dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup. Salah satu aspek penting dalam tingkah laku manusia ialah : proses belajar, maka relasi manusia dengan dunia sekitar itu berupa usaha untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman, agar orang bisa bertindak dan bertingkah laku lebih efektif lagi. Lalu, menanggapi situasi dan masalah dengan cara yang lebih fefektif dan efisien, inilah yang disebut: belajar.


Melalui diagnosa multikausal pada penanganan kombinasi terhadap para pasien yang menderita gangguan psikis, dengan jalan :
  1. Medikasi atau pemberian obat-obatan, ditambah dengan
  2. Psikotherapi individual;
  3. Psikotherapi kelompok dan
  4. Perbaikan kondisi lingkungan dari pasien.


Jadi, ada kombinasi dari pekerjaan medis, pekerjaan psikiatris, dan pekerjaan sosial. Dalam kondisi sedemikian, orang lalu menggunakan istilah sosiotherapi dalam psikiatri. Dengan begitu, baik psikolog-therapeut-dokter maupun para pasien bisa secara positif saling mempengaruhi demi kesembuhan pasien.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar